Group
Counseling (Konseling Kelompok)
Dosen
Pengampu: Akhmad Baidun M.Si.
Mata Kuliah:
MIKRO KONSELING
Disusun Oleh :
Erchan Handoko Ginting 11170700000087
6C
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
FAKULTAS PSIKOLOGI
2020
Kata Pengantar
Dengan
menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Puji syukur
kami panjatkan kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya sehingga saya mampu menyelesaikan makalah Mikro Konseling yang
berjudul “Group Counseling”.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi
Muhammad SAW yang telah menunjukan kepada kita semua jalan yang lurus berupa
ajaran agama islam yang sempurna dan menjadi anugrah terbesar bagi seluruh alam
semesta.
Penyusunan
makalah sudah saya lakukan sebaik mungkin dengan dukungan dari banyak pihak.
Untuk itu saya ucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung
saya dalam rangka menyelesaikan makalah ini.
Tidak
lepas dari semua itu, saya sadar bahwa dalam makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan baik dari segi penyusunan, bahasa, serta aspek-aspek lainnya. Maka
saya mengharapkan kritik dan saran terhadap makalah ini agar kedepannya dapat
kami perbaiki.
Demikian
yang dapat saya sampaikan, semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca guna menambah wawasan dan pengetahuan
mengenai Group Counseling.
Jakarta, 30 Juni 2020
Penulis
Daftar Isi
BAB I
Pendahulaun
1.1 Latar Belakang
Konseling merupakan salah
satu teknik bimbingan. Melalui metode ini upaya pemberian bantuan diberikan
secara individu dan langsung tatap muka (berkomunikasi) antara pembimbing
(konselor) dengan klien. Dengan perkataan lain pemberian bantuan yang dilakukan
melalui hubungan yang bersifat face to face relationship (hubungan empat mata),
yang dilaksanakan dengan wawancara antara pembimbing (konselor) dengan klien.
Masalah-masalah yang dipecahkan melalui teknik konseling, adalah masalah-masalah
yang bersifat pribadi (Tohirin,2007:296).
Disebutkan juga oleh
Livneh, dkk (2004) dalam jurnal Group Counseling for People With Physical
Disabilities bahwa konseling kelompok dapat membantu orang yang berusaha menuju
menyelesaikan beberapa masalah yang umum (misalnya, menerima keterbatasan
fungsional, berurusan dengan prasangka teman sebaya) dengan menyediakan
kesempatan untuk belajar satu sama lain dengan berbagi tentang keprihatinan
umum dan masalah serta menghasilkan solusi untuk hambatan dan kesulitan.
Nilai lebih konseling
kelompok, antara lain klien bisa belajar memahami orang lain & cara
pandangnya, mengembangkan penghargaan yang lebih dalam pada orang lain,
terutama yang berbeda dengan dirinya, mencapai ketrampilan sosial yang lebih
besar dengan peer group, berbagi dengan orang lain, memperjelas masalah,
pikiran, nilai & ide melalui diskusi dengan orang lain.
Layanan konseling
kelompok merupakan upaya bantuan untuk dapat memecahkan masalah siswa dengan
memanfaatkan dinamika kelompok. Apabila dinamika kelompok dapat terwujud dengan
baik maka anggota kelompok akan saling menolong, menerima dan berempati dengan
tulus atau sering juga disebut dengan kecerdasan emosional. Konseling kelompok
juga merupakan wahana untuk menambah kompetensi sosial, menemukan alternatif
cara penyelesaian masalah dan mengambil keputusan yang tepat dari konflik yang
dialaminya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa
Itu Group Counseling?
2. Apa
Tujuan Dari Group Counseling?
3. Apa
Definisi Dari Kelompok dan Dinamikanya?
4. Apa
Faktor Kuratif, Konseling Kelompok?
5. Apa
Konsep dan Langkah-langkah Sosio Drama?
1.3 Tujuan Pembahasan
1. Memahami
definisi kelompok & dinamikanya.
2. Menjelaskan
Group Counseling.
3. Memahami
Tujuan Group Counseling.
4. Memahami
Tentang Tujuan, Faktor Kuratif Konseling Kelompok.
5. Memahami
konsep dan langkah-langkah socio-drama.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Konseling Kelompok
Menurut
Latipun konseling kelompok (group counseling) merupakan salah satu bentuk
konseling dengan memanfaatkan kelompok untuk membantu, memberi umpan balik
(feed back) dan pengalaman belajar. Konseling kelompok dalam prosesnya
menggunakan prinsip-prinsip dinamika kelompok (group dynamic).
Menurut George M. Gazda,
ia memberikan definisi konseling kelompok, dalam bukunya Group Counseling: A
developmental approach dan dikutip oleh Shertzer dan Stone dalam bukunya
Fundamentals Of Counseling sebagai berikut; "Konseling kelompok adalah
suatu proses antarpribadi yang dinamis, yang terpusat pada pemikiran dan
perilaku yang disadari. Proses itu mengandung ciri-ciri terapeutik seperti
pengungkapan pemikiran dan perasaan secara leluasa orientasi pada kenyataan,
pembukaan diri mengenai seluruh perasaan mendalam yang dialami, saling percaya,
saling perhatian, saling pengertian dan saling mendukung. Semua ciri terapuetik
itu diciptakan dan dibina dalam suatu kelompok kecil dengan cara mengemukakan kesulitan dan keprihatinan
pribadi pada sesama anggota kelompok dan pada konselor. Konseli-konseli atau
para klien adalah orang yang pada dasarnya tergolong orang normal, yang
menghadapi berbagai masalah yang tidak memerlukan perubahan dalam struktur
kepribadian untuk diatasi. Para konseli ini dapat memanfaatkan suasana
komunikasi antarpribadi dalam kelompok untuk meningkatkan pemahaman dan
penerimaan terhadap nilai-nilai kehidupan dan segala tujuan hidup, serta untuk
belajar dan/ atau menghilangkan suatu sikap dan perilaku tertentu".
Menurut W. S. Winkel
konseling kelompok merupakan bentuk khusus dari layanan konseling, yaitu
wawancara konselor profesional dengan beberapa orang sekaligus yang tergabung
dalam suatu kelompok kecil. Di dalam konseling kelompok terdapat dua aspek
pokok yaitu aspek proses dan aspek pertemuan tatap muka. Aspek proses dalam
konseling kelompok memiliki ciri khas karena proses itu dilalui oleh lebih dari
dua orang; demikian pula aspek pertemuan tatap muka karena yang berhadapan muka
adalah sejumlah orang yang tergabung dalam kelompok, yang saling memberikan
bantuan psikologis.
Konseling kelompok
mempunyai unsur terapeutik. Adapun ciri-ciri terapeutik dalam konseling
kelompok adalah terdapat hal-hal yang melekat pada interaksi antarpribadi dalam
kelompok dan membantu untuk memahami diri dengan lebih baik dan menemukan
penyelesaian atas berbagai kesulitan yang dihadapi.
Perbedaan konseling kelompok dengan yang
biasa adalah:
1. Klien
dalam konseling kelompok dapat berfungsi baik sebagai penolong maupun penolong
sedangkan klien dalam konseling individu hanya dapat mempertahankan peran
penolong.
2. Konseling
individu adalah hubungan satu lawan satu, tatap muka yang ditandai oleh
hubungan antara konselor dan konselor. Dalam konseling kelompok di sisi lain ada
kedekatan fisik anggota lain dengan keprihatinan, ketakutan dan masalah yang
sama. Klien dapat memperoleh penghiburan dari pengetahuan bahwa ia bukan
satu-satunya yang memiliki masalah dan bahwa ada orang lain yang memiliki
masalah yang sama.
3. Dalam
konseling kelompok, tugas konselor lebih rumit daripada konseling individu.
Konselor tidak hanya harus mengikuti akal dan menghargai apa yang dikatakan
masing-masing anggota tetapi juga harus memeriksa bagaimana ini memengaruhi
anggota lainnya dan reaksi mereka.
Dari uraian diatas dapat
disimpulkan bahwa konseling kelompok adalah proses pemberian bantuan yang
dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor)
kepada beberapa individu yang tergabung dalam suatu kelompok kecil dengan
mempunyai permasalahan yang sama (disebut klien) dan membutuhkan bantuan yang
bermuara pada terselesaikannya masalah yang sedang dihadapi oleh segenap
anggota kelompok.
Sebaik apapun format
konseling yang digunakan, tetap saja akan kita lihat kekurangan atau keterbatasan
pada praktiknya. Berikut ini adalah keterbatasan yang terdapat dalam konseling
kelompok:
1. Klien
perlu menjalani konseling individual terlebih dahulu sebelummengikuti konseling kelompok. Karena apabila tidak
dilakukan, ia akan mengalami kesulitan untuk langsung bergabung dengan anggota
kelompok.
2. Konselor
harus memberikan perhatian secara adil pada semua anggota kelompok. Dan hal ini
bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan.
3. Kelompok
dapat bubar seketika karena masalah dalam "proses kelompok".
4. Klien
yang sulit mempercayai orang lain akan berpengaruh negatif pada situasi
konseling secara keseluruhan.
2.2 Tujuan Konseling Kelompok
Konseling
kelompok berfokus pada usaha membantu klien dalam melakukan perubahan dengan
menaruh perhatian pada perkembangan dan penyesuaian sehari-hari; misalnya
modifikasi tingkah laku, pengembangan keterampilan hubungan personal, nilai,
sikap atau membuat keputusan karier. Konseling kelompok merupakan salah satu
bentuk terapeutik yang berhubungan dengan pemberian bantuan berupa pengalaman
penyesuaian dan perkembangan individu.
Sementara itu Wiener juga
mengatakan bahwa tujuan dari konseling adalah sebagai media terapeutik bagi
klien, karena dapat meningkatkan pemahaman diri dan berguna untuk perubahan
tingkah laku secara individual. George dan Cristiani juga menjelaskan bahwa konseling
kelompok dimanfaatkan sebagai proses belajar dan upaya membantu klien dalam
pemecahan masalahnya.
Menurut pendapat Ganster (1986) bahwa dukungan sosial memiliki pengaruh yang cukup besar dalam mendukung aspek psikologis pegawai, sehingga mampu bekerja dengan tenang, konsentrasi, termotivasi dan mempunyai komitmen yang tinggi terhadap organisasinya. Sedangkan pegawai yang kurang atau tidak mendapat dukungan sosial bisa mengalami frustasi, stress dalam bekerja sehingga prestasi kerja menjadi buruk, dan dampak lainnya adalah tinggi absensi kerja, keinginan pindah tempat kerja bahkan sampai pada berhenti bekerja. Dukungan sosial didefinisikan sebagai dukungan yang nyata atau dirasakan oleh seseorang dari orang lain yang dapat membantu individu tersebut dalam mengurangi stress atau meningkatkan kesejahteraannya (Sloan & Mcintosh 1991). Optimisme adalah kecenderungan untuk mempercayai bahwa hal baik akan terjadi dimasa mendatang (Seligman, 2006). Dalam organisasi, optimisme karyawan dapat meningkat apabila perusahaan berorientasi pada kesejahteraan karyawan (Green et al, 2004 & Medlin et al, 2010).
Selaras dengan tujuan
yang ingin dicapai dalam konseling kelompok, maka penulis merasa perlu
menguraikan kelebihan dan kekurangan pada konseling kelompok pada bagian ini
sebagai bahan pertimbangan bagi pembaca
untuk mengetahui lebih jauh mengenai konseling dalam format kelompok ada
berapa kelebihan dan kekurangan yang dapat diperoleh klien melalui konseling
kelompok seperti yang dikemukakan Hough berikut ini:
1. Konseling
kelompok menerapkan pendekatan yang menjalin hubungan perasaan sebagai sebuah
kelompok dalam masyarakat yang sudah saling terasing dan tidak memiliki aturan
yang jelas.
2. Kelompok
juga saling memberikan dukungan dalam menghadapi masalah yang dihadapi setiap
orang.
3. Kelompok
dapat memberikan kesempatan untuk belajar antara satu sama lain.
4. Kelompok
dapat menjadi motivator bagi masing-masing klien. Mereka yang merasa telah
menjadi anggota kelompok akan berusaha menyesuaikan perilakunya dengan harapan
kelompok.
5. Kelompok
dapat menjadi tempat yang baik untuk menguji dan mencoba perilaku yang baru.
6. Kelompok
menanamkan perasaan tenteram kepada anggotanya karena mereka bebas dapat
berbicara dengan orang yang tidak akan menertawakan atau merendahkan mereka
masing-masing memiliki masalah.
7. Anggota-anggota
kelompok yang ada dapat saling membantu dengan menjadi buddy (pasangan yang
selalu dapat memberikan pertolongan dan bersedian membantu) dan juga dapat
menjadi mentor kepada anggota kelompok yang lain.
2.3 Definisi Dari Group
Istilah
"kelompok" didefinisikan sebagai sejumlah orang yang diklasifikasikan
bersama karena karakteristik umum, kesamaan, minat, atau kegiatan antarpribadi.
Kelompok menyediakan struktur di mana komunitas dan masyarakat yang lebih besar
dibangun. Ini karena orang dilahirkan ke dalam suatu kelompok, tumbuh sebagai
bagian dari suatu kelompok, berkembang melalui suatu kelompok, diciptakan
sebagai anggota suatu kelompok dan dalam kematian meninggalkan kelompok itu.
Karenanya, konseling kelompok digunakan untuk membantu anggota memenuhi
kebutuhan pribadi mereka, menyelesaikan masalah hubungan interpersonal dan
mencapai tujuan mereka.
2.4 Dinamika Kelompok
Menurut Erle M. Ohlsen
dalam bukunya Group Counseling: interaksi dalam kelompok konseling mengandung
banyak unsur terapeutik, yang paling efektif bila seluruh anggota kelompok:
1) Memandang
kelompok bahwa kelompoknya menarik;
2) Merasa
diterima oleh kelompoknya;
3) Menyadari
apa yang diharapkan dari mereka dan apa yang mereka harapkan dari orang lain;
4) Merasa
sungguh-sungguh terlibat;
5) Merasa
aman sehingga mudah membuka diri;
6) Menerima
tanggung jawab peranannya dalam kelompok;
7) Bersedia
membuka diri dan mengubah diri serta membantu anggota lain untuk berbuat yang
sama;
8) Menghayati
partisipasi sebagai bermakna bagi dirinya;
9) Berkomunikasi
sesuai isi hatinya dan berusaha menghayati isi hati orang lain;
10) Bersedia
menerima umpan balik dari orang lain, sehingga lebih mengerti akan kekuatanya
dan kelemahannya;
11) Mengalami
rasa tidak puas dengan dirinya sendiri, sehingga mau berubah dan menghadapi
tegangan batin yang menyertai suatu proses perubahan diri; dan
12) Bersedia
menaati norma praktis tertentu yang mengatur interaksi dalam kelompok.
2.5
Faktor Kuratif
Yalom
(1985) mendiskusikan keberhasilan sebuah proses konseling kelompok diketahui
dengan adanya dinamika kelompok yang kondusif. Faktor-faktor kuratif yang perlu
diperhatikan dalam konseling kelompok antara lain.
1.
Altruisme (mementingkan
kepentingan orang lain). Konseling kelompok melatih anggota untuk saling
memberi dan menerima. Kemungkinan selama ini konseli menganggap dirinya sebagai
beban keluarga, namun dalam konseling kelompok, konseli dapat berperan penting
bagi orang lain. Konseli dapat menolong, memberikan dukungan, keyakinan, saran-saran
pada konseli lain, sehingga dapat meningkatkan harga dirinya dan merasa
berharga di mata orang lain.
2.
Kohesivitas kelompok
(merasakan koneksi atau hubungan dengan orang lain). Rasa kebersaman dan
ketertarikan anggota pada kelompok dapat membuat rasa bersatu, satu anggota
dengan anggota yang lain dapat saling menerima, sehingga dapat membentuk
hubungan yang berarti dalam kelompok.
3.
Belajar interpersonal
(belajar dari anggota lain). Kelompok merupakan mikrokosmik sosial. Jika
konseli dapat berhasil berinteraksi dengan baik dalam kelompok, maka pengalaman
ini diharapkan dapat dilakukan di luar kelompok.
4.
Bimbingan (memberikan
bantuan dan membimbing). Bimbingan bersifat didaktis yang dapat dilakukan oleh
konselor. Misalnya, cara belajar yang baik, cara menumbuhkan kepercayaan diri,
topik kesehatan mental, dan lain-lain.
5.
Katarsis (melepaskan
perasaan-perasaan dan emosi-emosi). Katarsis merupakan faktor penyembuh dalam
konseling kelompok. Dalam proses konseling kelompok, konseli datang dengan
penuh gejolak emosi, selanjutnya konseli dapat mengekspresikannya dengan
bantuan konselor maupun anggota lainnya.
6.
Identifikasi (pemberian
modeling bagi anggota atau pemimpin kelompok). Seringkali konseli memperoleh
manfaat dari pengamatannya dalam proses konseling kelompok. Konseli dapat
mengamati dan meniru cara konselor maupun anggota lain dalam bersikap dan
memecahkan masalah.
7.
Family reenactment
(merasakan sebagai satu keluarga dan belajar dari pengalaman). Konselor,
asisten konselor, dan anggota kelompok dapat dipandang sebagai representasi
dari keluarga asal konseli. Konseli seperti mengulang pengalaman masa kecilnya
dalam keluarga asal. Dari sini konseli akan belajar perilaku baru dalam
berhubungan dengan orang lain.
8.
Pemahaman diri atau
self-understanding (memperoleh pemahaman pribadi). Umpan balik dari anggota
akan menolong konseli untuk mengubah sikapnya dalam berhubungan dengan orang
lain.
9.
Dorongan pengharapan
(merasa penuh harapan tentang satu kehidupan). Harapan konseli untuk berubah
akan membuatnya bertahan dalam konseling. Apalagi bila terdapat teman yang
berhasil dalam konseling.
10.
Universalitas (tidak
merasa kesepian). Konseli sering beranggapan bahwa hanya dirinya sendiri yang
memiliki masalah dan masalah tersebut unik sehingga orang lain tidak akan pernah
memiliki masalah tersebut. Namun ketika konseli mengetahui berbagai masalah
yang juga unik yang dihadapi oleh anggota kelompok, maka konseli akan merasakan
dirinya tidak sendiri dan tidak terisolasi.
11.
Faktor eksistensial
(mendatangkan pemahaman akan pasang surutnya kehidupan). Kadang-kadang ada
konseli yang menganggap bahwa hidup ini tidak adil dan tidak seimbang. Kemudian
konseli mempertanyakan tentang hidup dan mati. Di dalam konseling kelompok
topik seperti ini dapat muncul dan didiskusikan. Tanggapan dan dukungan dari
anggota lain akan sangat banyak menolong. Kemampuan memberikan layanan
konseling kelompok sangat penting bagi konselor, karena seorang konseli
terkadang membutuhkan suasana kelompok untuk memecahkan kesulitannya dan
permasalahan konseli kemungkinan tidak dapat terselesaikan melalui konseling
individual. Oleh karena itu, pengembangan pengetahuan dan penguasaan
pendekatan-pendekatan dalam layanan konseling kelompok perlu ditingkatkan.
2.6 Sosio Drama
Sosiodrama adalah teknik
yang melibatkan interaksi antara dua orang atau lebih tentang suatu topik
situasi. Klien melakukan peran masing-masing sesuai dengan toko yang ia
perankan. Mereka berinteraksi sesama mereka melakukan peran terbuka. Sosiodrama
ialah klien dapat mendramatiskan tingkah laku, ungkapan gerak-gerik wajah
seseorang dalam hubungan sosial antar manusia dimana klien bisa berperan atau
memainkan peranan dalam dramatisasi masalah sosial.
Berdasarkan
penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa teknik sosiodrama atau bermain
peran adalah suatu permainan di mana anggota kelompoknya membagi peran-peran
tertentu dalam cerita yang sudah disiapkan serta dapat menjadikan siswa lebih
kreaktif dan lebih aktif dalam kegiatan tersebut. Tujuan utama Sosiodrama
adalah agar klien dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain dan
merangsang klien untuk berpikir dan memecahkan masalah.
Langkah-langkah
sosio drama
1.
Pilih konteks yang akan
dimainkan perannya yang merepresentasikan masalah
2.
Mainkan peran pada
konteks resolusi kelompok yang diharapkan
3.
Refleksi pada setiap
anggota kelompok
Tahapan-tahapan
sosio drama
1.
Pemeran yang terlibat
dalam sosiodrama merupakan bagian dari anggota suatu kelompok yang memiliki
peran berbeda dan memiliki tujuan kelompok.
2.
Konselor menanyakan
tentang perannya dalam kelompok dan menggambarkan kompetensi utama yang
merangkum tugas semua anggota kelompok.
3.
Anggota kelompok
melakukan self-rating dengan skala 1- 10 pada masing2 kompetensi tersebut dan
cek total skor yang merepresentasikan masalah atau berpotensi resiko.
4.
Lakukan pengecekan suara
menurut perspektif kelompok (Actual)
5.
Imageri (citra diri) pada
setiap individu saat berada di titik spektogram tertinggi
6.
Konselor meminta anggota
kelompok memerankan suatu role dan berikan gambaran detil dari tugas peran
tersebut
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dalam konseling kelompok, satu
konselor terlibat dalam suatu hubungan dengan sejumlah konseli pada saat yang
bersamaan. Konseling kelompok biasanya berkaitan dengan masalah perkembangan
dan masalah situasional anggota. Ini dirancang untuk membantu menyelesaikan
konflik interpersonal dan meningkatkan kesadaran diri dan wawasan yang lebih
besar. Wahana untuk mencapai tujuan ini adalah diskusi tentang masalah pribadi
di tingkat afektif. Anggota kelompok ini pada dasarnya adalah individu-individu
'normal' dengan berbagai tingkat kepedulian. Konselor atau terapis (dengan
pelatihan ekstensif dalam prosedur kelompok) memberikan kepemimpinan. Konseling
kelompok dapat berupa perbaikan dan pencegahan.
Konseling kelompok bukan hanya
konseling individu yang diterapkan pada kelompok, juga bukan hanya penggunaan
waktu konselor secara ekonomis. Banyak fitur konseling kelompok cukup unik dan
akan salah untuk menganggapnya sebagai konseling "individu"secara
massal.
Referensi
Hara, Sundus & Baidun, Akhmad. (2018). Pengaruh Self Efficacy Dan Dukungan Sosial Terhadap Optimisme Karyawan Kontrak Uin Syarif Hidayatullah Jakarta. TAZKIYA JOURNAL OF PSYCHOLOGY. 22. 10.15408/tazkiya.v22i2.8407.
Faiziyah, Siti
Nur (2015) IMPLEMENTASI KONSELING KELOMPOK DALAM MENUMBUHKAN SIKAP PERCAYA
DIRI SISWA DI SMK MUHAMMADIYAH 2 SUMBERREJO - BOJONEGORO. Undergraduate
thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.
Masfufah, Ulfa (2012) Pengaruh
konseling kelompok terhadap penyesuaian sosial pada mahasantri baru Ma'had
Sunan Ampel Al-Ali Malang. Undergraduate thesis, Universitas Islam
Negeri Maulana Malik Ibrahim.
Ajufo,
Beatrice. (2019). Group Counselling. Department of Counselling Psychology,
College of Applied Education and Vocational Technology, Tai Solarin University
of Education, Ijagun, Ijebu-Ode.
Rochmawati, Rochmawati (2012) Penerapan metode Sosiodrama
dalam pembelajaran Aqidah Akhlak pada siswa kelas VII di SMP Islam Raden Paku
Surabaya. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.
Efika, Ria (2017) PENGARUH KONSELING KELOMPOK DENGAN TEKNIK
SOSIODRAMA TERHADAP KECERDASAN EMOSIONAL PESERTA DIDIK KELAS XI SMA NEGERI 8
BANDAR LAMPUNG. Undergraduate
thesis, UIN Raden Intan Lampung.