Rabu, 01 Juli 2020

Group Counseling (Konseling Kelompok)

Group Counseling (Konseling Kelompok)

Dosen Pengampu: Akhmad Baidun M.Si.


 

Mata Kuliah:

MIKRO KONSELING

 

 

Disusun Oleh :

Erchan Handoko Ginting 11170700000087

6C

 

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

FAKULTAS PSIKOLOGI

2020

Kata Pengantar

            Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Puji syukur kami panjatkan kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya sehingga saya mampu menyelesaikan makalah Mikro Konseling yang berjudul “Group Counseling”. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukan kepada kita semua jalan yang lurus berupa ajaran agama islam yang sempurna dan menjadi anugrah terbesar bagi seluruh alam semesta.

            Penyusunan makalah sudah saya lakukan sebaik mungkin dengan dukungan dari banyak pihak. Untuk itu saya ucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung saya dalam rangka menyelesaikan makalah ini.

            Tidak lepas dari semua itu, saya sadar bahwa dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan baik dari segi penyusunan, bahasa, serta aspek-aspek lainnya. Maka saya mengharapkan kritik dan saran terhadap makalah ini agar kedepannya dapat kami perbaiki.

            Demikian yang dapat saya  sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca guna menambah wawasan dan pengetahuan mengenai Group Counseling.

 

 

 

 

 

 

Jakarta, 30 Juni 2020

 

 

 

Penulis

Daftar Isi

KATA PENGANTAR............................................................................................................... 2

DAFTAR ISI............................................................................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................................... 4

A. Latar Belakang................................................................................................................ 4

B. Rumusan Masalah........................................................................................................... 5

C. Tujuan Pembahasan....................................................................................................... 5

BAB II PEMBAHASAN........................................................................................................... 6

2.1. Konseling Kelompok..................................................................................................... 6

2.2.Tujuan Konseling Kelompok........................................................................................ 8

2.3. Definisi Group............................................................................................................... 9

2.4. Dinamika Kelompok..................................................................................................... 9

2.5. Faktor Kuratif............................................................................................................. 10

2.6. Sosio Kelompok........................................................................................................... 12

BAB III PENUTUP................................................................................................................. 14

A. Kesimpulan.................................................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................. 15

LAMPIRAN............................................................................................................................ 16

A. Lampiran Sumber......................................................................................................... 16

 

 

BAB I

Pendahulaun

1.1  Latar Belakang

Konseling merupakan salah satu teknik bimbingan. Melalui metode ini upaya pemberian bantuan diberikan secara individu dan langsung tatap muka (berkomunikasi) antara pembimbing (konselor) dengan klien. Dengan perkataan lain pemberian bantuan yang dilakukan melalui hubungan yang bersifat face to face relationship (hubungan empat mata), yang dilaksanakan dengan wawancara antara pembimbing (konselor) dengan klien. Masalah-masalah yang dipecahkan melalui teknik konseling, adalah masalah-masalah yang bersifat pribadi (Tohirin,2007:296).

Disebutkan juga oleh Livneh, dkk (2004) dalam jurnal Group Counseling for People With Physical Disabilities bahwa konseling kelompok dapat membantu orang yang berusaha menuju menyelesaikan beberapa masalah yang umum (misalnya, menerima keterbatasan fungsional, berurusan dengan prasangka teman sebaya) dengan menyediakan kesempatan untuk belajar satu sama lain dengan berbagi tentang keprihatinan umum dan masalah serta menghasilkan solusi untuk hambatan dan kesulitan.

Nilai lebih konseling kelompok, antara lain klien bisa belajar memahami orang lain & cara pandangnya, mengembangkan penghargaan yang lebih dalam pada orang lain, terutama yang berbeda dengan dirinya, mencapai ketrampilan sosial yang lebih besar dengan peer group, berbagi dengan orang lain, memperjelas masalah, pikiran, nilai & ide melalui diskusi dengan orang lain.

Layanan konseling kelompok merupakan upaya bantuan untuk dapat memecahkan masalah siswa dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Apabila dinamika kelompok dapat terwujud dengan baik maka anggota kelompok akan saling menolong, menerima dan berempati dengan tulus atau sering juga disebut dengan kecerdasan emosional. Konseling kelompok juga merupakan wahana untuk menambah kompetensi sosial, menemukan alternatif cara penyelesaian masalah dan mengambil keputusan yang tepat dari konflik yang dialaminya.

 

 

1.2 Rumusan Masalah

1.      Apa Itu Group Counseling?

2.      Apa Tujuan Dari Group Counseling?

3.      Apa Definisi Dari Kelompok dan Dinamikanya?

4.      Apa Faktor Kuratif, Konseling Kelompok?

5.      Apa Konsep dan Langkah-langkah Sosio Drama?

1.3 Tujuan Pembahasan

1.      Memahami definisi kelompok & dinamikanya.

2.      Menjelaskan Group Counseling.

3.      Memahami Tujuan Group Counseling.

4.      Memahami Tentang Tujuan, Faktor Kuratif Konseling Kelompok.

5.     Memahami konsep dan langkah-langkah socio-drama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konseling Kelompok

            Menurut Latipun konseling kelompok (group counseling) merupakan salah satu bentuk konseling dengan memanfaatkan kelompok untuk membantu, memberi umpan balik (feed back) dan pengalaman belajar. Konseling kelompok dalam prosesnya menggunakan prinsip-prinsip dinamika kelompok (group dynamic).

Menurut George M. Gazda, ia memberikan definisi konseling kelompok, dalam bukunya Group Counseling: A developmental approach dan dikutip oleh Shertzer dan Stone dalam bukunya Fundamentals Of Counseling sebagai berikut; "Konseling kelompok adalah suatu proses antarpribadi yang dinamis, yang terpusat pada pemikiran dan perilaku yang disadari. Proses itu mengandung ciri-ciri terapeutik seperti pengungkapan pemikiran dan perasaan secara leluasa orientasi pada kenyataan, pembukaan diri mengenai seluruh perasaan mendalam yang dialami, saling percaya, saling perhatian, saling pengertian dan saling mendukung. Semua ciri terapuetik itu diciptakan dan dibina dalam suatu kelompok kecil dengan  cara mengemukakan kesulitan dan keprihatinan pribadi pada sesama anggota kelompok dan pada konselor. Konseli-konseli atau para klien adalah orang yang pada dasarnya tergolong orang normal, yang menghadapi berbagai masalah yang tidak memerlukan perubahan dalam struktur kepribadian untuk diatasi. Para konseli ini dapat memanfaatkan suasana komunikasi antarpribadi dalam kelompok untuk meningkatkan pemahaman dan penerimaan terhadap nilai-nilai kehidupan dan segala tujuan hidup, serta untuk belajar dan/ atau menghilangkan suatu sikap dan perilaku tertentu".

Menurut W. S. Winkel konseling kelompok merupakan bentuk khusus dari layanan konseling, yaitu wawancara konselor profesional dengan beberapa orang sekaligus yang tergabung dalam suatu kelompok kecil. Di dalam konseling kelompok terdapat dua aspek pokok yaitu aspek proses dan aspek pertemuan tatap muka. Aspek proses dalam konseling kelompok memiliki ciri khas karena proses itu dilalui oleh lebih dari dua orang; demikian pula aspek pertemuan tatap muka karena yang berhadapan muka adalah sejumlah orang yang tergabung dalam kelompok, yang saling memberikan bantuan psikologis.

Konseling kelompok mempunyai unsur terapeutik. Adapun ciri-ciri terapeutik dalam konseling kelompok adalah terdapat hal-hal yang melekat pada interaksi antarpribadi dalam kelompok dan membantu untuk memahami diri dengan lebih baik dan menemukan penyelesaian atas berbagai kesulitan yang dihadapi.

Perbedaan konseling kelompok dengan yang biasa adalah:

1.      Klien dalam konseling kelompok dapat berfungsi baik sebagai penolong maupun penolong sedangkan klien dalam konseling individu hanya dapat mempertahankan peran penolong.

2.      Konseling individu adalah hubungan satu lawan satu, tatap muka yang ditandai oleh hubungan antara konselor dan konselor. Dalam konseling kelompok di sisi lain ada kedekatan fisik anggota lain dengan keprihatinan, ketakutan dan masalah yang sama. Klien dapat memperoleh penghiburan dari pengetahuan bahwa ia bukan satu-satunya yang memiliki masalah dan bahwa ada orang lain yang memiliki masalah yang sama.

3.      Dalam konseling kelompok, tugas konselor lebih rumit daripada konseling individu. Konselor tidak hanya harus mengikuti akal dan menghargai apa yang dikatakan masing-masing anggota tetapi juga harus memeriksa bagaimana ini memengaruhi anggota lainnya dan reaksi mereka.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa konseling kelompok adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada beberapa individu yang tergabung dalam suatu kelompok kecil dengan mempunyai permasalahan yang sama (disebut klien) dan membutuhkan bantuan yang bermuara pada terselesaikannya masalah yang sedang dihadapi oleh segenap anggota kelompok.

Sebaik apapun format konseling yang digunakan, tetap saja akan kita lihat kekurangan atau keterbatasan pada praktiknya. Berikut ini adalah keterbatasan yang terdapat dalam konseling kelompok:

1.      Klien perlu menjalani konseling individual terlebih dahulu sebelummengikuti  konseling kelompok. Karena apabila tidak dilakukan, ia akan mengalami kesulitan untuk langsung bergabung dengan anggota kelompok.

2.      Konselor harus memberikan perhatian secara adil pada semua anggota kelompok. Dan hal ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan.

3.      Kelompok dapat bubar seketika karena masalah dalam "proses kelompok".

4.      Klien yang sulit mempercayai orang lain akan berpengaruh negatif pada situasi konseling secara keseluruhan.

 

2.2 Tujuan Konseling Kelompok

            Konseling kelompok berfokus pada usaha membantu klien dalam melakukan perubahan dengan menaruh perhatian pada perkembangan dan penyesuaian sehari-hari; misalnya modifikasi tingkah laku, pengembangan keterampilan hubungan personal, nilai, sikap atau membuat keputusan karier. Konseling kelompok merupakan salah satu bentuk terapeutik yang berhubungan dengan pemberian bantuan berupa pengalaman penyesuaian dan perkembangan individu.

Sementara itu Wiener juga mengatakan bahwa tujuan dari konseling adalah sebagai media terapeutik bagi klien, karena dapat meningkatkan pemahaman diri dan berguna untuk perubahan tingkah laku secara individual. George dan Cristiani juga menjelaskan bahwa konseling kelompok dimanfaatkan sebagai proses belajar dan upaya membantu klien dalam pemecahan masalahnya.

Menurut pendapat Ganster (1986) bahwa dukungan sosial memiliki pengaruh yang cukup besar dalam mendukung aspek psikologis pegawai, sehingga mampu bekerja dengan tenang, konsentrasi, termotivasi dan mempunyai komitmen yang tinggi terhadap organisasinya. Sedangkan pegawai yang kurang atau tidak mendapat dukungan sosial bisa mengalami frustasi, stress dalam bekerja sehingga prestasi kerja menjadi buruk, dan dampak lainnya adalah tinggi absensi kerja, keinginan pindah tempat kerja bahkan sampai pada berhenti bekerja. Dukungan sosial didefinisikan sebagai dukungan yang nyata atau dirasakan oleh seseorang dari orang lain yang dapat membantu individu tersebut dalam mengurangi stress atau meningkatkan kesejahteraannya (Sloan & Mcintosh 1991). Optimisme adalah kecenderungan untuk mempercayai bahwa hal baik akan terjadi dimasa mendatang (Seligman, 2006). Dalam organisasi, optimisme karyawan dapat meningkat apabila perusahaan berorientasi pada kesejahteraan karyawan (Green et al, 2004 & Medlin et al, 2010).

Selaras dengan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling kelompok, maka penulis merasa perlu menguraikan kelebihan dan kekurangan pada konseling kelompok pada bagian ini sebagai bahan pertimbangan bagi pembaca  untuk mengetahui lebih jauh mengenai konseling dalam format kelompok ada berapa kelebihan dan kekurangan yang dapat diperoleh klien melalui konseling kelompok seperti yang dikemukakan Hough berikut ini:

1.      Konseling kelompok menerapkan pendekatan yang menjalin hubungan perasaan sebagai sebuah kelompok dalam masyarakat yang sudah saling terasing dan tidak memiliki aturan yang jelas.

2.      Kelompok juga saling memberikan dukungan dalam menghadapi masalah yang dihadapi setiap orang.

3.      Kelompok dapat memberikan kesempatan untuk belajar antara satu sama lain.

4.      Kelompok dapat menjadi motivator bagi masing-masing klien. Mereka yang merasa telah menjadi anggota kelompok akan berusaha menyesuaikan perilakunya dengan harapan kelompok.

5.      Kelompok dapat menjadi tempat yang baik untuk menguji dan mencoba perilaku yang baru.

6.      Kelompok menanamkan perasaan tenteram kepada anggotanya karena mereka bebas dapat berbicara dengan orang yang tidak akan menertawakan atau merendahkan mereka masing-masing memiliki masalah.

7.      Anggota-anggota kelompok yang ada dapat saling membantu dengan menjadi buddy (pasangan yang selalu dapat memberikan pertolongan dan bersedian membantu) dan juga dapat menjadi mentor kepada anggota kelompok yang lain.

 

2.3 Definisi Dari Group

            Istilah "kelompok" didefinisikan sebagai sejumlah orang yang diklasifikasikan bersama karena karakteristik umum, kesamaan, minat, atau kegiatan antarpribadi. Kelompok menyediakan struktur di mana komunitas dan masyarakat yang lebih besar dibangun. Ini karena orang dilahirkan ke dalam suatu kelompok, tumbuh sebagai bagian dari suatu kelompok, berkembang melalui suatu kelompok, diciptakan sebagai anggota suatu kelompok dan dalam kematian meninggalkan kelompok itu. Karenanya, konseling kelompok digunakan untuk membantu anggota memenuhi kebutuhan pribadi mereka, menyelesaikan masalah hubungan interpersonal dan mencapai tujuan mereka.

2.4 Dinamika Kelompok

Menurut Erle M. Ohlsen dalam bukunya Group Counseling: interaksi dalam kelompok konseling mengandung banyak unsur terapeutik, yang paling efektif bila seluruh anggota kelompok:

1)      Memandang kelompok bahwa kelompoknya menarik;

2)      Merasa diterima oleh kelompoknya;

3)      Menyadari apa yang diharapkan dari mereka dan apa yang mereka harapkan dari orang lain;

4)      Merasa sungguh-sungguh terlibat;

5)      Merasa aman sehingga mudah membuka diri;

6)      Menerima tanggung jawab peranannya dalam kelompok;

7)      Bersedia membuka diri dan mengubah diri serta membantu anggota lain untuk berbuat yang sama;

8)      Menghayati partisipasi sebagai bermakna bagi dirinya;

9)      Berkomunikasi sesuai isi hatinya dan berusaha menghayati isi hati orang lain;

10)  Bersedia menerima umpan balik dari orang lain, sehingga lebih mengerti akan kekuatanya dan kelemahannya;

11)  Mengalami rasa tidak puas dengan dirinya sendiri, sehingga mau berubah dan menghadapi tegangan batin yang menyertai suatu proses perubahan diri; dan

12)  Bersedia menaati norma praktis tertentu yang mengatur interaksi dalam kelompok.

 

2.5 Faktor Kuratif

Yalom (1985) mendiskusikan keberhasilan sebuah proses konseling kelompok diketahui dengan adanya dinamika kelompok yang kondusif. Faktor-faktor kuratif yang perlu diperhatikan dalam konseling kelompok antara lain.

1.      Altruisme (mementingkan kepentingan orang lain). Konseling kelompok melatih anggota untuk saling memberi dan menerima. Kemungkinan selama ini konseli menganggap dirinya sebagai beban keluarga, namun dalam konseling kelompok, konseli dapat berperan penting bagi orang lain. Konseli dapat menolong, memberikan dukungan, keyakinan, saran-saran pada konseli lain, sehingga dapat meningkatkan harga dirinya dan merasa berharga di mata orang lain.

2.      Kohesivitas kelompok (merasakan koneksi atau hubungan dengan orang lain). Rasa kebersaman dan ketertarikan anggota pada kelompok dapat membuat rasa bersatu, satu anggota dengan anggota yang lain dapat saling menerima, sehingga dapat membentuk hubungan yang berarti dalam kelompok.

3.      Belajar interpersonal (belajar dari anggota lain). Kelompok merupakan mikrokosmik sosial. Jika konseli dapat berhasil berinteraksi dengan baik dalam kelompok, maka pengalaman ini diharapkan dapat dilakukan di luar kelompok.

4.      Bimbingan (memberikan bantuan dan membimbing). Bimbingan bersifat didaktis yang dapat dilakukan oleh konselor. Misalnya, cara belajar yang baik, cara menumbuhkan kepercayaan diri, topik kesehatan mental, dan lain-lain.

5.      Katarsis (melepaskan perasaan-perasaan dan emosi-emosi). Katarsis merupakan faktor penyembuh dalam konseling kelompok. Dalam proses konseling kelompok, konseli datang dengan penuh gejolak emosi, selanjutnya konseli dapat mengekspresikannya dengan bantuan konselor maupun anggota lainnya.

6.      Identifikasi (pemberian modeling bagi anggota atau pemimpin kelompok). Seringkali konseli memperoleh manfaat dari pengamatannya dalam proses konseling kelompok. Konseli dapat mengamati dan meniru cara konselor maupun anggota lain dalam bersikap dan memecahkan masalah.

7.      Family reenactment (merasakan sebagai satu keluarga dan belajar dari pengalaman). Konselor, asisten konselor, dan anggota kelompok dapat dipandang sebagai representasi dari keluarga asal konseli. Konseli seperti mengulang pengalaman masa kecilnya dalam keluarga asal. Dari sini konseli akan belajar perilaku baru dalam berhubungan dengan orang lain.

8.      Pemahaman diri atau self-understanding (memperoleh pemahaman pribadi). Umpan balik dari anggota akan menolong konseli untuk mengubah sikapnya dalam berhubungan dengan orang lain.

9.      Dorongan pengharapan (merasa penuh harapan tentang satu kehidupan). Harapan konseli untuk berubah akan membuatnya bertahan dalam konseling. Apalagi bila terdapat teman yang berhasil dalam konseling.

10.  Universalitas (tidak merasa kesepian). Konseli sering beranggapan bahwa hanya dirinya sendiri yang memiliki masalah dan masalah tersebut unik sehingga orang lain tidak akan pernah memiliki masalah tersebut. Namun ketika konseli mengetahui berbagai masalah yang juga unik yang dihadapi oleh anggota kelompok, maka konseli akan merasakan dirinya tidak sendiri dan tidak terisolasi.

11.  Faktor eksistensial (mendatangkan pemahaman akan pasang surutnya kehidupan). Kadang-kadang ada konseli yang menganggap bahwa hidup ini tidak adil dan tidak seimbang. Kemudian konseli mempertanyakan tentang hidup dan mati. Di dalam konseling kelompok topik seperti ini dapat muncul dan didiskusikan. Tanggapan dan dukungan dari anggota lain akan sangat banyak menolong. Kemampuan memberikan layanan konseling kelompok sangat penting bagi konselor, karena seorang konseli terkadang membutuhkan suasana kelompok untuk memecahkan kesulitannya dan permasalahan konseli kemungkinan tidak dapat terselesaikan melalui konseling individual. Oleh karena itu, pengembangan pengetahuan dan penguasaan pendekatan-pendekatan dalam layanan konseling kelompok perlu ditingkatkan.

2.6 Sosio Drama

            Sosiodrama adalah teknik yang melibatkan interaksi antara dua orang atau lebih tentang suatu topik situasi. Klien melakukan peran masing-masing sesuai dengan toko yang ia perankan. Mereka berinteraksi sesama mereka melakukan peran terbuka. Sosiodrama ialah klien dapat mendramatiskan tingkah laku, ungkapan gerak-gerik wajah seseorang dalam hubungan sosial antar manusia dimana klien bisa berperan atau memainkan peranan dalam dramatisasi masalah sosial.

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa teknik sosiodrama atau bermain peran adalah suatu permainan di mana anggota kelompoknya membagi peran-peran tertentu dalam cerita yang sudah disiapkan serta dapat menjadikan siswa lebih kreaktif dan lebih aktif dalam kegiatan tersebut. Tujuan utama Sosiodrama adalah agar klien dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain dan merangsang klien untuk berpikir dan memecahkan masalah.

Langkah-langkah sosio drama

1.      Pilih konteks yang akan dimainkan perannya yang merepresentasikan masalah

2.      Mainkan peran pada konteks resolusi kelompok yang diharapkan

3.      Refleksi pada setiap anggota kelompok

Tahapan-tahapan sosio drama

1.      Pemeran yang terlibat dalam sosiodrama merupakan bagian dari anggota suatu kelompok yang memiliki peran berbeda dan memiliki tujuan kelompok.

2.      Konselor menanyakan tentang perannya dalam kelompok dan menggambarkan kompetensi utama yang merangkum tugas semua anggota kelompok.

3.      Anggota kelompok melakukan self-rating dengan skala 1- 10 pada masing2 kompetensi tersebut dan cek total skor yang merepresentasikan masalah atau berpotensi resiko.

4.      Lakukan pengecekan suara menurut perspektif kelompok (Actual)

5.      Imageri (citra diri) pada setiap individu saat berada di titik spektogram tertinggi

6.      Konselor meminta anggota kelompok memerankan suatu role dan berikan gambaran detil dari tugas peran tersebut

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

            Dalam konseling kelompok, satu konselor terlibat dalam suatu hubungan dengan sejumlah konseli pada saat yang bersamaan. Konseling kelompok biasanya berkaitan dengan masalah perkembangan dan masalah situasional anggota. Ini dirancang untuk membantu menyelesaikan konflik interpersonal dan meningkatkan kesadaran diri dan wawasan yang lebih besar. Wahana untuk mencapai tujuan ini adalah diskusi tentang masalah pribadi di tingkat afektif. Anggota kelompok ini pada dasarnya adalah individu-individu 'normal' dengan berbagai tingkat kepedulian. Konselor atau terapis (dengan pelatihan ekstensif dalam prosedur kelompok) memberikan kepemimpinan. Konseling kelompok dapat berupa perbaikan dan pencegahan.

            Konseling kelompok bukan hanya konseling individu yang diterapkan pada kelompok, juga bukan hanya penggunaan waktu konselor secara ekonomis. Banyak fitur konseling kelompok cukup unik dan akan salah untuk menganggapnya sebagai konseling "individu"secara massal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi

Hara, Sundus & Baidun, Akhmad. (2018). Pengaruh Self Efficacy Dan Dukungan Sosial Terhadap Optimisme Karyawan Kontrak Uin Syarif Hidayatullah Jakarta. TAZKIYA JOURNAL OF PSYCHOLOGY. 22. 10.15408/tazkiya.v22i2.8407. 

Faiziyah, Siti Nur (2015) IMPLEMENTASI KONSELING KELOMPOK DALAM MENUMBUHKAN SIKAP PERCAYA DIRI SISWA DI SMK MUHAMMADIYAH 2 SUMBERREJO - BOJONEGORO. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

Masfufah, Ulfa (2012) Pengaruh konseling kelompok terhadap penyesuaian sosial pada mahasantri baru Ma'had Sunan Ampel Al-Ali Malang. Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

Ajufo, Beatrice. (2019). Group Counselling. Department of Counselling Psychology, College of Applied Education and Vocational Technology, Tai Solarin University of Education, Ijagun, Ijebu-Ode.

Rochmawati, Rochmawati (2012) Penerapan metode Sosiodrama dalam pembelajaran Aqidah Akhlak pada siswa kelas VII di SMP Islam Raden Paku Surabaya. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

Efika, Ria (2017) PENGARUH KONSELING KELOMPOK DENGAN TEKNIK SOSIODRAMA TERHADAP KECERDASAN EMOSIONAL PESERTA DIDIK KELAS XI SMA NEGERI 8 BANDAR LAMPUNG. Undergraduate thesis, UIN Raden Intan Lampung.