PERILAKU KERJA (ADAPTASI DAN TATA KELOLA)
PADA KARYAWAN DESAIN KOMUNIKASI VISUAL MASA NEW NORMAL LIFE
Mata Kuliah:
ANALISIS JABATAN
Dosen Pembina:
Drs. Akhmad Baidun, M.Si.
Disusun oleh:
Erchan Handoko Ginting
11170700000087
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Daftar Isi………………………………………………………………………………………2
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………..……3
1.1 Pengertian………………………………………………………………………...……3
1.1.1 Perilaku
Kerja…………………………………………………………………..…….3
1.1.2 Adaptasi………………………………………………………………………..……..4
1.1.3 Design Komunikasi Visual …………………………………………………………..5
1.1.4 Perkembangan Design Komunikasi Visual
Di Indonesia …………………….….…..7
1.2 Alur
Proses Produksi ……………………………….…………………………….......…8
BAB II PENGORGANISASIAN DAN PENATAAN
SUMBER DAYA MANUSIA…..…10
2.1 Divisi/Departement
pada Industri Design Komunikasi Visual ………………...…....…10
2.2 Jabatan dan Deskripsi Tugas………………………………………………….…….…..13
2.3 Penyesuaian Tugas Dalam
Masa Covid-19………………………………….….…....…16
BAB III IMPLEMENTASI NEW
NORMAL LIFE DI PERUSAHAAN……….….….……19
2.1 Pengaturan Shift Karyawan………………………………………………….……….…..19
2.2 Penetapan
Jenis Pekerjaan yang Dapat Dilakukan dari Rumah………..…….….……….20
2.3 Merubah
Mekanisme dan Prosedur Kerja……………………………………..………....20
BAB IV PENUTUP…………………………………………………………………………….23
4.1 Kesimpulan………………………………………….………………………………..….23
4.2 Rekomendasi……………………………………………….…………………….………23
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………..………24
PENDAHULUAN
1.1
Pengertian
Pada era globalisasi sekarang ini banyaknya perusahaan industri kreatif
yang saling bersaing untuk mendapatkan kepercayaan ataupun daya tarik terhadap
masyarakat. Disini lah dibutuhkannnya para desainer terutama dibidang desain
komunikasi visual untuk menunjang ataupun meningkatkan kualitas dari perusahaan
industri kreatif tersebut. Terutama dibidang perfilman dan periklanan.
Desain Komunikasi Visual dalam masa “New Normal” adalah DKV yang bisa
merubah struktur diri agar mampu berubah untuk dapat beradaptasi kedalam masa New
Normal yang dimulai pada tahun 2020 ini.
1.1.1 Perilaku
Kerja
Perilaku kerja adalah suatu yang akan menjadi faktor dasar yang wajib
dan harus diketahui oleh perusahaan agar dapat mengerti serta memahami perilaku
kerja yang ditimbulkan saat karyawan bekerja karena hal ini akan mempengaruhi
kesuksesan sebuah perusahaan atau organisasi dalam perjalanan bisnisnya.
Menurut Theedens (1996) perilaku kerja adalah tanggapan atau reaksi individu
yang timbul baik berupa perbuatan atau sikap maupun anggapan seseorang terhadap
pekerjaannya, kondisi kerja yang di alami di lingkungan kerja serta perlakuan
pimpinan terhadap karyawan itu sendiri. Perilaku kerja juga bisa dilihat lewat
perbedaan gender, menurut Gray (2003) untuk menciptakan perilaku kerja yang
baik harus memperhatikan komunikasi pria dan wanita, perasaan di tempat kerja
menetapkan batasan dalam tiap perilaku kerja, serta mengingat berbagai
perbedaan yang ada.
Dalam tiap perilaku kerja, serta mengingat berbagai perbedaan yang ada.
Dengan mengerti perilaku kerja para karyawan, perusahaan akan mudah dalam
mengatur serta memahami para karyawannya dengan tujuan menciptakan lingkungan
kerja yang konsisten dan positif, sehingga semua kegiatan dalam perusahaan
berjalan dengan baik dan dapat membuat profit kepada perusahaan. Menurut Sinamo
(2002) perusahaan akan sukses jika para karyawannya dapat menjalankan 8
paradigma kerja utama yaitu bekerja tulus, bekerja tuntas, bekerja benar,
bekerja keras, bekerja serius, bekerja kreatif, bekerja unggul, dan bekerja
sempurna.
1.1.2 Adaptasi
Menurut Denison (1995), teori adaptasi
meletakkan penekanan pada kemampuan organisasi untuk menerima, menafsirkan dan
menerjemahkan gangguan dari lingkungan luar ke norma internal yang mengarah
pada kelangsungan hidup atau kesuksesan.Tiga aspek kunci dari kemampuan
beradaptasiadalahpersepsi dan respon terhadap lingkungan eksternal, kemampuan
untuk menanggapi pelanggan internal dan reaksi cepat baik terhadap pelanggan
internal dan eksternal.
Menurut Schein (2010), lingkungan eksternal yang dihadapi perusahaan
sebenarnya menjadi bagian dari dimensi budaya organisasi, apa pun skala
usahanya, besar atau kecil. Proses pembentukan budaya organisasi yang kuat
dalam jangka waktu lama akan membuat survive dalam beradaptasi terhadap
lingkungan eksternal. Beberapa unsur yang esensial untuk beradaptasi menghadapi
lingkungan eksternal perusahaan adalah mission and strategy, goals, means of
developing consensus, reaching goals, measurement, and correction. Namun dalam
penelitian ini budaya adaptif menggunakan konsep Denison.
Budaya adaptif dapat dinyatakan sebagai budaya yang mampu melakukan
adaptasi. Menurut Schindehutte dan Moris (2001), adaptasi dapat didefinisikan
sebagai tindakan-tindakan para pelaku usaha (entrepreneur) dan timnya dalam
memproses masukan-masukan informasi dari lingkungannya dan membuat
penyesuaian-penyesuaian yang cepat.
Lebih lanjut Marchand mengidentifikasi atribut-atribut dari budaya
adaptif yang meliputi:
·
Semua karyawan, bagian, dan kelompok dalam organisasi unuk berkolaborasi
secara efektif.
·
Kemampuan semua karyawan pada semua tingkatan untuk berjejaring dengan
pihak-pihak di luar organisasi, memperoleh sumber-sumber baru dari informasi
yang berguna maupun pespektif yang membantu dalam proses. Itu meliputi jaringan
dengan konsumen dan pemegang kepentingan lain, tenaga ahli dari luar, bahkan
dengan para pesaing.
·
Kemampuan semua karyawan di segala tingkatan untuk berinovasi dan
bereksperimen tanpa ada rasa takut.
Sebuah organisasi tentu tidak dengan sendirinya akan memiliki budaya
adaptif seturut perubahan lingkungannya. Kemampuan adaptasi perlu diupayakan.
Miller (2013) mengidentifikasi 10 cara yang dapat dilakukan untuk membangun
budaya adaptif suatu organisasi:
·
Menciptakan suatu perasaan krisis (a sense of crisis) dan adanya suatu
kebutuhan bagi terjadinya perubahan dan arahan baru.
·
Berkomunikasi secara konsisten dan luas.
·
Menampilkan sebuah kecenderungan untuk menerima perubahan dan ide ide
baru dari luar.
·
Memperkuat pentingnya inovasi.
·
Membangun dan memelihara kredibilitas pihak-pihak yang memiliki
kepentingan.
·
Melembagakan focus yang seimbang pada keberhasilan konsumen, karyawan,
dan pemilik.
·
Membangun kepemimpinan atau kemampuan untuk menghaasilkan perubahan
sebagai focus penting pada semua tingkatan.
·
Mendesentralisasi pembuatan keputusan sejauh itu mungkin dilakukan.;
·
Mempromosikan dengan hati-hati dan mendemosi jika dirasa perlu.
·
Bekerja sebagai pemimpin yang melayani.
Kotter dan Heskett (1997) menyatakan bahwa jenis budaya adaptif
menghargai dan mendorong kewiraswastaan, yang dapat membantu sebuah perusahaan
beradaptasi dengan lingkungan yang berubah dengan memungkinkannya
mengidentifikasi dan mengeksploitasi peluang-peluang baru. Kotter dan Hesket
(1997) menekankan ”pelanggan” dan menyatakan secara tidak langsung bahwa jika
sebuah budaya sangat menghargai pelanggan, dan menciptakan perubahan untuk
melayani kebutuhan pelanggan, akan membantu membuat sebuah organisasi menjadi
adaptif.
1.1.3
Design Komunikasi Visual
Desain komunikasi visual yang lebih sering
didengar dengan DKV pada saat sekarang ini sangat berperan penting didalam
industri kreatif, terutama dibidang multimedia. Desain komunikasi visual sangat
dibutuhkan utnuk membangkitkan kreatifitas didalam dunia seni perfilman.
Didalam industri kreatif banyak perusahaan yang membutuhkan jasa dibidang
komunikasi visual, cotohnya untuk perfilman,periklanan dll.
Makna dari desain komunikasi visual jika ditinjau dari asal katanya
(etimologi) terdiri dari tiga asal kata yang diambil dari beberapa bahasa yang
berbeda. Desain diambil dari kata designo yang berasal dari Italia yang berarti
gambar. Sedang dalam bahasa Inggris desain diambil dari bahasa latin designare
yang berarti merencanakan atau merancang. Istilah desain dalam seni rupa
dipadukan dengan reka bentuk, reka rupa, rancangan atau sketsa. Kata komunikasi
berarti menyampaikan suatu pesan dari komunikator (penyampai pesan) kepada
komunikan (penerima pesan) dengan menggunakan suatu media dengan maksud
tertentu. Komunikasi sendiri berasal dari bahasa Inggris communication yang
diambil dari bahasa latin communis yang berarti ―sama‖(dalam bahasa Inggris : common). Lalu
dalam proses pengertiannya dianggap sebagai proses menciptakan suatu kesamaan
(commonness) atau suatu kesatuan pemikiran antara pengirim (komunikator) dan
penerima (komunikan). Sementara kata visual bermakna segala sesuatu yang dapat
dilihat dan direspon oleh indera penglihatan manusia yaitu mata. Berasal dari
kata latin videre yang berarti melihat yang kemudian diadopsi ke dalam bahasa
Inggris visual.
Dari arti istilah yang ditemukan dapat diartikan Desain Komunikasi
Visual sebagai seni menyampaikan pesan (art of communication) dengan
menggunakan bahasa rupa (visual language) yang disampaikan melalui media berupa
desain yang bertujuan menginformasikan, mempengaruhi hingga merubah perilaku
target yang melihat sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Bahasa rupa yang
dipakai mencakup grafis, tanda, symbol, ilustrasi gambar/foto, tipografi/huruf,
dan sebagainya yang berdasar pada kaidah bahasa visual khas berdasar ilmu tata
rupa. Pesan yang diungkapkan secara kreatif dan komunikatif, mengandung solusi
untuk permasalahan yang hendak disampaikan.
Desain Komunikasi Visual mengkaji segala sesuatu hal yang berkaitan
dengan komunikasi dan pesan, teknologi percetakan, penggunaan teknologi
multimedia dan teknik persuasi dalam masyarakat.
Dalam kalangan pendidik di Indonesia, Desain Komunikasi Visual sering
disingkat menjadi DKV. Pada dasarnya merupakan istilah penggambaran untuk
proses pengolahan media dalam berkomunikasi mengenai pengungkapan suatu
pemikirian ataupun penyampaian informasi terlihat dan terbaca. Proses
berkomunikasi melalui pendalaman ide-ide dengan penambahan gambar berupa foto,
diagram, tipografi, ilustrasi, permainan warna, dan sebagainya yang dapat
menghasilkan efek terhadap pihak-pihak yang melihat. Efek yang dihasilkan
bergantung dari tujuan yang ingin disampaikan oleh penyampai pesan dan
kemampuan dari penerima pesan untuk memahami pesan tersebut.
Dalam perkembangannya dalam kalangan dunia iklan dan dunia akademik di
bidang komunikasi, istilah Desain Komunikasi Visual telah banyak dikenal meskipun
istilah ini masih terhitung baru dalam kurun waktu dua dekade ini. Dalam dunia
pendidikan kerap digunakan istilah Dekave ataupun DISKOMVIS yang merupakan
akronim dari Desain Komunikasi Visual.
1.1.4
Perkembangan Design Komunikasi Visual Di Indonesia
Perkembangan Desain Komunikasi Visual di
Indonesia sudah berkembang sejak zaman kolonial. Mesin cetak pertama kali
didatangkan dari Belanda ke pulau Jawa pada tahun 1659. Namun karena ketiadaan
operator, mesin tersebut menganggur puluhan tahun. Tujuan didatangkan mesin
cetak ini erat dikaitkan dengan niat misionaris untuk mencetak kitab suci dan
buku-buku pendidikan Kristen di Indonesia. Selain kitab suci dan buku-buku
pendidikan Kristen, mereka juga akan menerbitkan surat kabar berhaluan
pendidikan Kristen.
Pada Desember 1974 terjadi peristiwa
yang dikenal dengan sebutan Desember Hitam. Pada waktu itu terjadi pergolakan
seniman muda yang memprotes terhadap pemberian penghargaan pemerintah kepada
lima pelukis, yang karyanya dikritisi bercorak seragam, yaitu dekoratif dan
lebih ditujukkan pada kepentingan konsumtif. Persitiwa Desember Hitam ini kelak
menjadi cikal bakal terbentuknya Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) pada tahun 1975.
GSRB menolak batasan antara seni murni dan seni terap, semua kesenian termasuk
desain dianggap sederajat. GSRB ini yang kelak akan memberikan pemahaman baru
tentang seni di Indonesia.
Gert Dumbar, seorang desainer grafis Belanda
pada tahun 1977 mengenalkan istilah semiotika dan komunikasi visual di FSRD
ITB. Menurutnya desain grafis tidak hanya menangani percetakan saja tetapi juga
gambar bergerak, display, dan pameran. Dan sejak saat itu istilah desain
komunikasi visual mulai dipakai menggantian desain grafis. Lalu pada akhir era
1970-an mulai banyak bermunculan perusahaan-perusahaan desain grafis yang
dipimpin desainer grafis.
Pada era 1980-an semakin banyak
studio-studio desain grafis di Indonesia. Menjamurnya studio grafis di masa ini
membuat studio grafis dimanapun dituntut untuk bisa mengerjakan pekerjaan
apapun. Pop Art merupakan gaya yang paling umum digunakan pada saat itu.
Majalah Tempo dan Zaman termasuk penerbit yang menggunakan gaya Pop Art pada
sampulnya.
Pada tanggal 16-24 Juni 1980 pameran
desain grafis pertama “Erasmus Huis”di Pusat Kebudayaan Belanda yang dilakukan
oleh tiga desainer grafis Indonesia. Pameran itu mengusung tujuan untuk
mengenalkan profesi desainer grafis ke masyarakat umum. Dalam perkembangannya,
pada tanggal 24 Semptember 1980 diresmikan organisasi desainer grafis pertama
di Indonesia dengan diberi nama Ikatan Perancang Grafis Indonesia (IPGI). IPGI
sendiri diresmikan bersamaan dengan sebuah pameran besar bertajuk ―Grafis ‗80‖ di Wisma Seni Mitra Budaya, Jakarta.
Dengan ini dimulailah era pameran desain grafis di Indonesia.
Menjelang akhir 1990-an, muncul era baru dalam dunia Desain Komunikasi
Visual di Indonesia. Mulai bermunculan penyampaian ide seniman pada karya yang
menggunakan media yang tak lazim pada masanya. Lahirnya performance art,
instalasi, dan media lainnya yang unik dan mengundang kontroversi.
Yogyakarta berperan penting dalam perkembangan Desain Komunikasi Visual
pada masa ini. Bienalle IX di Yogykarta yang sebagian besar karyanya berupa
instalasi. Perkembangan kecanggihan teknologi juga turut berperan penting dalam
perkembagangan era ini. Forum dialog Yogyakarta-Bandung sempat mewarnai
perkembangan Desain Komunikasi Visual di Indonesia. Seniman Bandung yang
cenderung lebih mudah mendapatkan teknologi secara lengkap menampakkan
kecenderungan karyanya perayaan modernism pada karyanya. Berbeda dengan
Yogyakarta yang terbatas pada teknologi media yang digunakan dan cenderung
menampakkan karya seni terait kehidupan sosial kemasyarakatan. Perbedaan visi
pada kedua kota ini lalu mengkerucut dan kemudian membuat patokan tentang dunia
Desain Komunikasi Visual yang berbeda di Indonesia.
1.2 Alur
Proses Produksi DKV
Proses desain komunikasi visual meliputi
tahap berikut (Safanayong, 2006: 56):
1)
Inspirasi
a. Inspirasi adalah alat yang mengembangkan desain.
b. Desainer perlu mencari inspirasi.
c. Desainer bisa mendapat inspirasi dan harus secara aktif mencari dari
berbagai sumber.
2)
Identifikasi meliputi proses seorang desainer dalam identifikasi idenya dan
membicarakan dalam beberapa tahap yang terjadi, termasuk meninjau hambatan dan
mendapatkan solusi, juga meliputi tanggung jawab desainer terhadap komunitas
dan masyarakat keseluruhan apabila dihadapi dengan pilihan-pilihan yang dapat
mempengaruhi keamanan, kesehatan dan kesejahteraan manusia.
3)
Konseptualisasi, setelah mengenal masalah desain, memeriksa metode
konseptualisasi ide untuk mendapatkan solusi, memeriksa konsep sifat desain dan
bagaimana menggunakan intuisi dan metafor untuk membantu menciptakan presentasi
yang berhubungan, hal ini memaksa untuk mengembangkan sebuah struktur pikiran
dan memakai image-image elementer untuk menerangkan yang tidak diketahui dan
yang tidak terlihat, menentukan kebutuhan untuk mempresentasikan konsep pada
sasaran yang berbeda dalam suatu cara yang jelas dan teratur.
4)
Definisi/Dummy menerangkan hirarki kebutuhan dalam desain dan
mengidentifikasikan jenis-jenis keputusan yang terlibat dalam memenuhi
kebutuhan tersebut.
5)
Eksplorasi/Refinement menjelajahi metoda dasar untuk memperbaiki konsep
sehingga lebih jelas, bahwa pilihan metoda dan media mempengaruhi perkembangan
ide dan dapat memakai pilihan yang selaras dengan kepentingan, bagaimana sebuah
konsep dapat berguna setelah teruji.
6)
Komunikasi menyoroti bahwa tanggung jawab utama seorang desainer adalah mampu
mengkomunikasikan kepada siapa, bagaimana dan mengapa.
a. Komunikasi adalah faktor kunci untuk keberhasilan proyek desain
keseluruhan.
b. Khalayak yang berbeda memerlukan teknik komunikasi yang berbeda.
7)
Produksi merupakan tahap akhir ini yang berperan penting dalam kerjasama antar
desainer dan tim produksi serta melihat manfaat umpan balik.
BAB II
PENGORGANISASIAN DAN PENATAAN SUMBERDAYA
MANUSIA
2.1 Divisi/Departement
pada Industri Design Komunikasi Visual
A.
Pekerjaan DKV
Pekerja DKV menggunakan kata (huruf) dan
gambar serta elemen– elemen grafis lain untuk berkomunikasi. Seni mereka
merupakan seni verbal visual. Tanpa memperhatikan tugas desainer, desainer
grafis mempunyai dua tujuan yang saling berhubungan yaitu :
·
Menyampaikan pesan pada audiens Seperti komunikator lain,desainer grafis
bekerja membuat pesan yang jelas dan berkonsentrasi pada estetika
·
Menciptakan desain yang memaksakan dan menyenangkan yang akan
menyempurnakan pesan Desain merupakan aturan dari bagian–bagian ke dalam sebuah
koherensi yang menyeluruh. Desainer mengambil bagian bagian kata, gambar, dan
elemen– elemen desain grafis lain dan mengatur ke dalam komunikasi yang menyatu
dalam format.
Menurut Silver dalam bukunya “Graphic Desain and Layout” (Erry A
Permana, 1994 : 4-5), peranan desain grafis mempunyai beberapa tugas, tugas
desainer grafis dari :
·
Merencanakan melakaukan desain.
·
Menuliskan kekhususan Layout yang meliputi : · Menentukan ukuran halaman
pada master page layout · Menentukan kualitas foto · Memilih dan menentukan
typografi · Memilih jenis kertas · Memilih warna · Menbuat rough atau rancangan
kasar iklan.
·
Membantu rekan kerja atau desainer grafis yang lainnya dalam memperbaiki
hasil layout iklannya, pengambilan foto, dan pembuatan gambar atau ilustrasi.
Di dalam melaksanakan tugasnya seorang desainer mengikuti prosedur
sebagai berikut :
·
Membuat ide kasar (drafted idea) berupa coretan-coretan kasar
·
memperbaiki ide pertama ke dalam bentuk yang lebih baik, yang dikenal
dengan rough (baca : raf)
·
3Membuat komprehensif berdasarkan raf sebagi bahan ub tuk diperhatikan
kepada pemesan.
B. Lapangan
Kerja DKV
·
Perusahaan Periklanan / Advertising Agency
Aktivitas yang berhubungan dengan desain
grafis dalam periklanan: merancang strategi komunikasi sebuah merek, me-layout
iklan di berbagai media (contoh: majalah, surat kabar, billboard, website, TV),
fotografi, tipografi, ilustrasi. Dalam bidang ini biasanya desainer grafis
bekerjasama dengan creative director, art director, copywriter, fotografer dan
illustrator.
·
Graphic Design Agency / Graphic House
Aktivitas yang berhubungan dengan desain grafis
di Graphic Design Agency hampir sama dengan branding agency, bedanya ruang
lingkup Graphic Design Agency biasanya lebih spesifik. Masing-masing agency
memiliki fokus keahlian, misalnya di bidang desain kemasan (packaging), desain
komunikasi perusahaan, desain publikasi, desain promosi, desain multimedia,
desain web dan lainnya.
·
Branding Agency / Branding Consultant
Aktivitas yang berhubungan dengan desain
grafis dalam branding: merancang strategi identitas dan komunikasi serta visual
brand, merancang logo dan identitas lainnya, membuat buku pedoman identitas,
menerapkan logo dan identitas visual lainnya ke dalam berbagai media. Contoh:
dari kartu nama, kop surat, website, sampai ke desain produk dan kemasan
(packaging), seragam karyawan, interior, arsitektur, mobil, pesawat terbang.
Dalam bidang ini biasanya desainer grafis bekerjasama dengan: tim konsultan
branding / branding expert yang terdiri dari ahli riset, bisnis, marketing,
sosial budaya dan lainnya, juga dengan tim visualisasi / implementasi: copywriter,
fotografer, illustrator, programmer, desainer interior, arsitek, kontraktor,
desainer produk, dan berbagai pihak lain. Desainer grafis yang menekuni bidang
ini biasa disebut dengan desainer branding.
·
Perusahaan Penerbitan / Publication Company
Aktivitas yang berhubungan dengan desain
grafis dalam bidang penerbitan: merancang strategi identitas, komunikasi maupun
visual berbagai media (contoh: buku, majalah, tabloid, surat kabar), me-layout
cover dan isi, fotografi, tipografi, ilustrasi, infographic. Juga merancang
materi promosi media tersebut: brosur, poster, iklan, banner, dan lain-lain.
Dalam bidang ini biasanya desainer grafis bekerjasama dengan penulis,
copywriter, fotografer, illustrator.
·
Percetakan & Digital Printing
Aktivitas yang berhubungan dengan desain
grafis di Percetakan umumnya: mempersiapkan desain mentah dari klien menjadi
siap cetak, antara lain: mengoperasikan software dan hardware dalam kaitan
dengan warna, font, film, pelat, kertas, dan lain-lain. Dalam bidang ini
biasanya desainer grafis bekerjasama dengan operator mesin, pihak perusahaan
kertas. Saat ini, antara jenis instansi dan area pekerjaannya semakin tidak
jelas batasannya, misalnya banyak advertising agency yang juga menerima
pekerjaan logo atau percetakan yang menerima pekerjaan mendesain iklan.
·
Web / Software Development Company
Aktivitas yang berhubungan dengan desain
grafis dalam bidang web / software development: merancang konsep, struktur,
navigasi, dan penampilan situs web, blog, software, information kiosk, mesin
ATM, dan lainnya. Contoh: desain halaman web, banner, button, animasi flash,
dan lain-lain. Dalam bidang ini biasanya desainer grafis bekerjasama dengan
copywriter dan programmer. Information Kiosk: mesin pencari informasi untuk
pengunjung. Banyak terdapat di mall, gedung perkantoran, pameran, museum, dan
lain-lain.
·
Game Development Company
Aktivitas yang berhubungan dengan desain
grafis dalam bidang Game: merancang konsep, peraturan dan sistim game,
karakter, lansekap, sampai materi promosinya: poster film, iklan, spanduk dan
lainnya. Dalam bidang ini biasanya desainer grafis bekerjasama dengan produser,
sutradara, penulis cerita, programmer, interface designer, animation designer,
sound designer, dan lain-lain. Interface Designer: perancang penampilan, navigasi,
dan atribut lainnya agar website / software / game tersebut mudah digunakan
orang. Animation Designer: perancang konsep animasi film / game. Sound
Designer: perancang konsep, efek, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan
suara.
·
Perusahaan Film & Stasiun TV
Aktivitas yang berhubungan dengan desain
grafis dalam bidang perfilman & TV: merancang konsep visual, story board,
title & credits, special effect, trailer, juga properti, stage (background
dan panggung), sampai materi promosinya: poster film, iklan, spanduk dan
lainnya. Dalam bidang ini biasanya desainer grafis bekerjasama dengan produser,
sutradara, penulis naskah, kontraktor dan berbagai pihak lain. Story board:
rancangan seluruh adegan cerita sebuah film dari segi pengambilan gambar, suara
dan atribut lainnya. Biasanya berupa frameframe yang berisi sketsa yang
digambar dengan tangan. Title & Credits: animasi judul pembuka dan penutup
dari sebuah film atau acara TV. Trailer: cuplikan-cuplikan adegan dari sebuah
film atau program acara TV yang disusun sedemikian rupa untuk menarik perhatian
calon penonton sebelum film yang bersangkutan beredar di pasaran.
·
Lembaga Pendidikan
Desainer grafis dapat meniti karier di
lembaga-lembaga pendidikan, baik sebagai pegawai / pengajar tetap maupun paruh
waktu. Terutama di jurusan yang biasanya berkaitan dengan desain grafis,
contohnya: Desain Komunikasi Visual, Ilmu Komunikasi, Teknologi Informatika.
2.2 Jabatan Dan Deskripsi Tugas
a.
Graphic Designer
·
Memadukan
unsur seni, visual, dan bahasa dalam sebuah desain untuk menyampaikan suatu
pesan.
·
Membuat
desain yang komunikatif dan mudah dipahami dari tampilan visualnya.
·
Menyampaikan
pesan dengan cara yang unik dan kreatif, misalnya dengan mengangkat fenomena
yang terjadi di masyarakat.
·
Melakukan
pendayagunaan elemen desain, layout, dan proses teknis, sehingga tercipta karya
desain grafis yang sesuai dengan kebutuhan yang diharapkan.
·
Memberikan
solusi atas suatu permasalahan yang timbul dalam ruang lingkup tertentu,
seperti lewat iklan layanan masyarakat.
·
Mengikuti
perkembangan zaman agar inovasi desain yang diciptakan sesuai dengan kebutuhan
zaman.
b. Art Director
Art Director adalah orang yang bertanggung jawab dengan
semua hal yang berkenaan dengan artistik, visual dan non verbal. Namun walaupun
seorang Art Director, sesuai namanya, bertangung jawab dengan hal visual bukan
berarti dia sama sekali tidak memperhatikan segi verbal. Art Director biasanya
berasal dari lulusan Desain Komunikasi Visual atau Desain Grafis walaupun tidak
menutup kemungknan juga dari disiplin ilmu lain yang kadang tidak berhubungan
dengan dunia seni dan desain. bertugas untuk mengawasi, mensupervisi dan
memberikan arahan mengenai artistik, visual dalam proses pembuatan sebuah iklan
atau desain. Pada dasarnya seorang Art Director memang harus memikirkan
tampilan sebuah iklan agar terlihat menarik. Namun tidak hanya sekedar faktor
estetika maupun artistik saja namun yang terpenting adalah bagaimana sebuah
iklan tersebut bisa mengkomunikasikan pesan terhadap khalayak sasarannya.
c. Creative Director
Seorang Creative Directortif bertanggung jawab atas
departemen kreatif di perusahaan periklanan dan pemasaran. Tugas mereka
termasuk merencanakan iklan perusahaan, memantau kampanye merek, merevisi
presentasi, dan membentuk standar merek. Juga disebut sebagai Direktur Desain.
Creative Director memiliki tugas sebagai berikut:
·
Bekerja
dengan tim merek untuk menghasilkan ide-ide baru untuk branding perusahaan,
kampanye promosi, dan komunikasi pemasaran.
·
Mengevaluasi
tren, menilai data baru dan tetap mengikuti perkembangan teknik pemasaran
terbaru.
·
Bantu
klien dalam menyelesaikan masalah dengan menjawab pertanyaan secara tepat waktu
dan profesional.
·
Buat
dan terapkan rencana pemasaran yang disesuaikan berdasarkan kebutuhan klien
individu.
·
Pertemuan
Brainstorming langsung dan sesi kreatif.
·
Bentuk
standar merek dan buat prosedur untuk memastikan semua produk sesuai merek.
·
Mengawasi
alur kerja harian departemen, menetapkan beban kerja proyek, dan memantau
tenggat waktu dan anggaran.
·
Kembangkan
salinan yang luar biasa dan dibuat dengan baik yang memenuhi persyaratan klien.
d. Illustrator
Seorang ilustrator bekerja
untuk membuat gambar statis berupa ilustrasi untuk digunakan dalam iklan, buku,
majalah, kemasan produk, kartu ucapan, komik, ataupun surat kabar. Mereka harus
mempunyai banyak ide dalam desain dan memahami persepi dari klien untuk dapat
menyampaikan sebuah pesan atau ide melalui gambar. Tugas illustrator adalah:
·
Melakukan
komunikasi dan berkonsultasi dengan klien untuk menyesuaikan keinginan klien
tersebut.
·
Menerjemahkan
pesan, ide, maupun cerita dalam bentuk visual yang menarik.
·
Mendesain
sebuah karya ilustrasi yang akan ditampilkan di buku pustaka, iklan, website,
majalah, koran, komik, kemasan produk, atau lainnya.
·
Menampilkan
karya-karya ilustrasi di media sosial sebagai sebuah alat promosi.
·
Melakukan
koordinasi dengan tim produksi untuk memastikan kualitas karya ilustrasi yang
akan ditampilkan.
2.3 Penyesuaian Tugas
Dalam Masa Covid-19
Diambil dari Konvensi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) (No. 155)
dan Rekomendasi (No. 164): Hak, peran dan tanggung jawab, sejumlah ketentuan dalam Konvensi No. 155
dan rekomendasinya menawarkan langkahlangkah pencegahan dan perlindungan untuk
mengurangi dampak negatif keselamatan dan kesehatan dari pandemi seperti
COVID-19 di dunia kerja. Berikut adalah beberapa dari ketentuan-ketentuan
tersebut:
·
Pengusaha
harus diminta untuk memastikan, sejauh dapat dipraktikkan secara wajar, tempat
kerja, mesin, peralatan dan proses di bawah kendali mereka dalam kondisi aman
dan tanpa risiko terhadap kesehatan dan bahwa zat dan agen kimia, fisik serta
biologis yang ada di bawah kendali mereka terbebas dari risiko kesehatan ketika
langkahlangkah perlindungan yang tepat diambil. Pengusaha harus diminta untuk
menyediakan, jika perlu, pakaian pelindung yang memadai dan alat pelindung diri
untuk mencegah, sejauh dapat dipraktikkan secara wajar, risiko kecelakaan atau
dampak buruk terhadap kesehatan
·
(K.
155, Pasal 16). Pakaian dan alat pelindung yang demikian harus disediakan,
tanpa membebankan biaya apa pun kepada pekerja (R. 164, paragraf 10 (e)).
·
Pengusaha
harus diminta untuk menyediakan, jika perlu, langkah-langkah untuk menangani
keadaan darurat dan kecelakaan, termasuk pengaturan pertolongan pertama yang
memadai (K. 155, Pasal 18).
·
Pengusaha
juga harus memastikan bahwa pekerja dan perwakilan mereka dikonsultasikan,
diinformasikan dan dilatih mengenai K3 terkait dengan pekerjaan mereka (K. 155,
Pasal 19).
·
Pekerja
dan perwakilan mereka memiliki hak untuk menerima informasi dan pelatihan yang
memadai tentang K3. Mereka juga harus dimungkinkan untuk menyelidiki - dan
untuk dikonsultasikan oleh pengusaha tentang - semua aspek K3 terkait dengan
pekerjaan mereka. Pekerja juga memiliki hak untuk menyingkir dari situasi kerja
yang menurut mereka cukup beralasan akan menimbulkan bahaya serius bagi
kehidupan atau kesehatan mereka, tanpa harus menanggung konsekuensi (K. 155,
Pasal13).
·
Dalam
kasus seperti itu, pekerja harus melaporkan situasi yang demikian kepada atasan
langsung mereka; hingga pengusaha telah mengambil tindakan perbaikan, yang
diperlukan, pengusaha tidak boleh meminta pekerja untuk kembali ke situasi
kerja di mana ada bahaya serius yang mengancam kesehatan atau kehidupan yang
mungkin akan terjadi (K. 155, Pasal 19 (f)).
·
Pekerja
dan perwakilan mereka harus bekerja sama dengan pengusaha di bidang K3 (K 155,
Pasal 19).
·
Kerja
sama ini mencakup: Menjaga dengan wajar keselamatan diri mereka sendiri dan
orang lain yang mungkin terkena dampak dari tindakan atau kelalaian mereka di
tempat kerja; mematuhi instruksi yang diberikan untuk keselamatan dan kesehatan
mereka sendiri dan orang lain; menggunakan perangkat keselamatan dan alat
pelindung diri dengan benar dan tidak membuatnya tidak beroperasi; melaporkan
segera kepada atasan langsung setiap situasi yang mereka yakini dapat
menimbulkan bahaya dan yang tidak dapat mereka perbaiki sendiri; melaporkan
setiap kecelakaan atau dampak pada kesehatan yang timbul dalam kegiatan terkait
pekerjaan (R. 164, Paragraf.16)
BAB III
IMPLEMENTASI
NEW NEW NORMAL LIFE DI PERUSAHAAN DESAIN KOMUNIKASI VISUAL
3.1 Pengaturan Shift Karyawan
Pengaturan Jam
Kerja
1. pengaturan
jam kerja sebagai berikut:
·
Pengaturan
jam kerja antar shift wajib dilakukan dengan jeda minimal 3 (tiga) jam.
·
Shift
1: Masuk antara Pukul 07.00 - 07.30 dan Pulang antara Pukul 15.00 - 15. 30.
·
Shift
2: Masuk antara Pukul 10.00 - 10.30 dan Pulang antara Pukul 18.00 - 18. 30.
2. pengaturan
jam kerja dikecualikan untuk jenis dan sifat pekerjaan yang dijalankan secara
terus menerus.
3. jumlah
pegawai/karyawan yang bekerja dalam shift diatur secara proporsional mendekati
perbandingan 50:50 untuk setiap shift.
4. pengaturan
jam kerja ini diikuti oleh:
·
optimalisasi
penerapan kerja dari rumah (Work from Home) dan keselamatan bagi kelompok
rentan;
·
penyusunan
dan penerapan pengaturan teknis operasional jam kerja oleh masing-masing
instansi/kantor/pemberi kerja dengan tetap menjalankan protokol kesehatan;
·
penyusunan
dan penerapan pengaturan teknis operasional sarana dan prasarana transportasi,
serta pemanfaatan fasilitas publik oleh otoritas/pengelola/penyelenggara dengan
tetap menjalankan protokol kesehatan
3.2 Penetapan Jenis Pekerjaan Yang Dapat Dilakukan Dirumah
Karena dunia kerja
Desain Komunikasi Visual adalah pekerjaan yang tidak esensial untuk bertemu
face to face, hampir semua pekerjaan dapat dilakukan dari rumah. Menurut Surat Edaran Menteri
Keuangan SE-5/MK.01/2020 tentang Panduan Tindak Lanjut Terkait Pencegahan
Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di Lingkungan Kementerian
Keuangan, Work From Home (WFH) merupakan kegiatan melaksanakan tugas kedinasan,
menyelesaikan output, koordinasi, meeting, dan tugas lainnya dari tempat
tinggal pegawai. Sedangkan istilah umumnya yaitu kerja jarak jauh (bahasa
Inggris: telecommuting, remote working; istilah padanan lain: kerja dari rumah)
merupakan model atau perjanjian kerja di mana karyawan memperoleh fleksibilitas
bekerja dalam hal tempat dan waktu kerja dengan bantuan teknologi
telekomunikasi, dengan kata lain, kegiatan bepergian ke kantor atau tempat ke digantikan
dengan hubungan telekomunikasi.
3.3 Merubah Mekanisme dan Prosedur kerja
SAAT
KEMBALI BEKERJA PASCA PEMBATASAN SOSIAL BERSKALA BESAR (PSBB):
·
Pihak manajemen/Tim Penanganan COVID-19 di tempat kerja selalu
memperhatikan informasi terkini serta himbauan dan instruksi Pemerintah Pusat
dan Daerah terkait COVID-19 di wilayahnya, serta memperbaharui kebijakan dan
prosedur terkait COVID-19 di tempat kerja sesuai dengan perkembangan terbaru.
(Secara berkala dapat diakses http://infeksiemerging.kemkes.go.id dan kebijakan
Pemerintah Daerah setempat)
·
Mewajibkan semua pekerja menggunakan masker selama di tempat kerja,
selama perjalanan dari dan ke tempat kerja serta setiap keluar rumah.
·
Larangan masuk kerja bagi pekerja, tamu/pengunjung yang memiliki gejala
demam/nyeri tenggorokan/batuk/pilek/sesak nafas. Berikan kelonggaran aturan
perusahaan tentang kewajiban menunjukkan surat keterangan sakit.
·
Jika pekerja harus menjalankan karantina/isolasi mandiri agar hak-haknya
tetap diberikan.
·
Menyediakan area/ruangan tersendiri untuk observasi pekerja yang
ditemukan gejala saat dilakukan skrining.
·
Pada kondisi tertentu jika diperlukan, tempat kerja yang memiliki sumber
daya dapat memfasilitasi tempat karantina/isolasi mandiri.
·
Penerapan higiene dan sanitasi lingkungan kerja 1) Selalu memastikan
seluruh area kerja bersih dan higienis dengan melakukan pembersihan secara
berkala menggunakan pembersih dan desinfektan yang sesuai (setiap 4 jam
sekali). Terutama handle pintu dan tangga, tombol lift, peralatan kantor yang
digunakan bersama, area dan fasilitas umum lainya. 2) Menjaga kualitas udara
tempat kerja dengan mengoptimalkan sirkulasi udara dan sinar matahari masuk
ruangan kerja, pembersihan filter AC.
·
Melakukan rekayasa engineering pencegahan penularan seperti pemasangan
pembatas atau tabir kaca bagi pekerja yang melayani pelanggan, dan lain lain.
·
Satu hari sebelum masuk bekerja dilakukan Self Assessment Risiko COVID-19
pada seluruh pekerja untuk memastikan pekerja yang akan masuk kerja dalam
kondisi tidak terjangkit COVID-19. Tamu diminta mengisi Self Assessment.
·
Melakukan pengukuran suhu tubuh (skrining) di setiap titik masuk tempat
kerja :
§
Petugas yang melakukan pengukuran suhu tubuh harus mendapatkan pelatihan
dan memakai alat pelindung diri (masker dan faceshield) karena berhadapan
dengan orang banyak yang mungkin berisiko membawa virus.
§
Pengukuran suhu tubuh jangan dilakukan di pintu masuk dengan tirai AC karena
dapat mengakibatkan pembacaan hasil yang salah.
§
Interpretasi dan tindak lanjut hasil pengukuran suhu tubuh di pintu
masuk terdapat pada Form 2 dan Form 3.
·
Terapkan physical distancing / jaga jarak ;
§
Pengaturan jumlah pekerja yang masuk agar memudahkan penerapan physical
distancing.
§
Pada pintu masuk, agar pekerja tidak berkerumun dengan mengatur jarak
antrian. Beri penanda di lantai atau poster/banner untuk mengingatkan.
§
Jika tempat kerja merupakan gedung bertingkat maka untuk mobilisasi
vertical lakukan pengaturan sebagai berikut:
·
Penggunaan lift: batasi jumlah orang yang masuk dalam lift, buat penanda
pada lantai lift dimana penumpang lift harus berdiri dan posisi saling
membelakangi.
·
Penggunaan tangga: jika hanya terdapat 1 jalur tangga, bagi lajur untuk
naik dan untuk turun, usahakan agar tidak ada pekerja yang berpapasan ketika
naik dan turun tangga. Jika terdapat 2 jalur tangga, pisahkan jalur tangga
untuk naik dan jalur tangga untuk turun.
·
Lakukan pengaturan tempat duduk agar berjarak 1 meter pada meja/area
kerja, saat melakukan meeting, di kantin, saat istirahat, dan lain lain.
·
Jika memungkinkan, menyediakan transportasi khusus pekerja untuk
perjalanan pulang pergi dari mess/perumahan ke tempat kerja sehingga pekerja
tidak menggunakan transportasi publik.
·
Petugas kesehatan/petugas K3/bagian kepegawaian melakukan pemantauan
kesehatan pekerja secara proaktif:
§
Sebelum masuk kerja, terapkan Self Assessment Risiko COVID-19 pada
seluruh pekerja untuk memastikan pekerja yang akan masuk kerja dalam kondisi
tidak terjangkit COVID-19.
§
Selama bekerja, masing-masing satuan kerja/bagian/divisi melakukan
pemantauan pada semua pekerja jika ada yang mengalami demam/batuk/pilek.
§
Mendorong pekerja untuk mampu deteksi diri sendiri (self monitoring) dan
melaporkan apabila mengalami demam/sakit tengorokan/batuk/pilek selama bekerja.
4) Bagi pekerja yang baru kembali dari perjalanan dinas ke negara/daerah
terjangkit COVID-19 pekerja diwajibkan melakukan karantina mandiri di rumah dan
pemantauan mandiri selama 14 hari terhadap gejala yang timbul dan mengukur suhu
2 kali sehari.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Industri DKV tidak
terlalu terkena dampak dari Covid-19 karena memang industry ini tidak
bergantung dengan pertemuan antar pekerja, memang kebanyakan pekerja DKV
biasanya adalah freelance yang sudah bekerja dari rumah. Mereka bisa
melakukan e-meeting dan bertemu klien dengan online dengan mudah. Psychological Well Being juga menjadi faktor dan penyebab penting mengapa kerja dari rumah ini dilakukan
4.2 Rekomendasi
COVID-19 terus
sangat mempengaruhi kesehatan masyarakat dan menyebabkan gangguan yang belum
pernah terjadi sebelumnya terhadap ekonomi dan pasar tenaga kerja. Pergeseran
tempat kerja mayoritas karyawan untuk bekerja dari rumah ke ditetapkan kepada
seluruh pekerjaan yang tidak esantial atau yang tidak telalu penting
menjadi dampak Covid-19 yang paling jelas terjadi dan dapat dirasakan semua
orang. Dengan begitu kita harus bisa cepat beradaptasi kepada new normal dengan
cepat
REFERENSI
Baidun, Akhmad & Shaleh, Abdul & Miftahuddin, Miftahuddin & Luzvinda, Liany & Muhtar, Desi. (2020). EFFECT OF PSYCHOLOGICAL CAPITAL AND GRATITUDE ON SUBJECTIVE WELL-BEING YOUNG MOTHER OF HIJRAH COMMUNITIES IN JAKARTA. 10.4108/eai.18-9-2019.2293469.
Herman, Achmad & Pahlevi, Anita
& Said, Yulianti. (2016). PROSES DESAIN KOMUNIKASI VISUAL IKLAN POLITIK
DALAM PILKADA MOROWALI TAHUN 2012. KANAL: Jurnal Ilmu Komunikasi. 3. 127.
10.21070/kanal.v3i2.304.
PUTRA PERSADA, MUHAMAD ETZHA (2015) LANDASAN KONSEPTUAL PERENCANAAN DAN
PERANCANGAN PUSAT PENDIDIKAN DESAIN KOMUNIKASI VISUAL MODERN DI YOGYAKARTA. S1
thesis, UAJY.
Widodo,
Hyginus & Triwanggono, Aloysius. (2018). KARAKTERISTIK BUDAYA ORGANISASI,
KEMAMPUAN ADAPTASI, DAN KINERJA USAHA MIKRO KECIL MENENGAH. EXERO : Journal of
Research in Business and Economics. 1. 90-110. 10.24071/exero.2018.010105.
Maulana, Thernando. "Analisa Perilaku Kerja
Karyawan Di De Boliva Surabaya Town Square." vol. 1, no. 2, 2013, pp.
563-577.
Setyorini, Eka. (2008). PERANAN DESAIN GRAFIS SEBAGAI BAGIAN DARI
DIVISI KREATIF DALAM PERIKLANAN DI CV. MEDIA ARTA (HARNO AR.). JURUSAN PERIKLANAN PROGRAM STUDI, FAKULTAS
ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK, UNIVERSITAS SEBELAS MARET, SURAKARTA
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR
HK.01.07/MENKES/328/2020
GUGUS TUGAS PERCEPATAN PENANGANAN COVID-19. SURAT EDARAN NOMOR 8 TAHUN
2020 TENTANG PENGATURAN JAM KERJA PADA MASA ADAPTASI KEBIASAAN BARU MENUJU
MASYARAKAT PRODUKTIF DAN AMA CORONA VIRUS DISIESE 2019 (COVID-19) DI
WILAYAH JABODETABEK
International Labour Organization. (2020). Dalam menghadapi pandemi:
Memastikan Keselamatan dan Kesehatan di Tempat Kerja. Labour Administration,
Labour Inspection and Occupational Safety and Health Branch (LABADMIN/OSH),
Switzerland