Selasa, 30 Juni 2020

PERILAKU KERJA (ADAPTASI DAN TATA KELOLA) PADA KARYAWAN DESAIN KOMUNIKASI VISUAL MASA NEW NORMAL LIFE

PERILAKU KERJA (ADAPTASI DAN TATA KELOLA) PADA KARYAWAN DESAIN KOMUNIKASI VISUAL MASA NEW NORMAL LIFE 

Mata Kuliah:

ANALISIS JABATAN

 

Dosen Pembina:

Drs. Akhmad Baidun, M.Si.

 

Disusun oleh:

 

Erchan Handoko Ginting        11170700000087

 

 

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2020 

 

 

Daftar Isi………………………………………………………………………………………2

BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………..……3

1.1      Pengertian………………………………………………………………………...……3

1.1.1       Perilaku Kerja…………………………………………………………………..…….3

1.1.2       Adaptasi………………………………………………………………………..……..4

1.1.3       Design Komunikasi Visual …………………………………………………………..5

1.1.4       Perkembangan Design Komunikasi Visual Di Indonesia …………………….….…..7

1.2      Alur Proses Produksi ……………………………….…………………………….......…8

BAB II PENGORGANISASIAN DAN PENATAAN SUMBER DAYA MANUSIA…..…10

2.1       Divisi/Departement pada Industri Design Komunikasi Visual ………………...…....…10

2.2       Jabatan dan Deskripsi Tugas………………………………………………….…….…..13

2.3       Penyesuaian Tugas Dalam Masa Covid-19………………………………….….…....…16

BAB III IMPLEMENTASI NEW NORMAL LIFE DI PERUSAHAAN……….….….……19

2.1      Pengaturan Shift Karyawan………………………………………………….……….…..19

2.2      Penetapan Jenis Pekerjaan yang Dapat Dilakukan dari Rumah………..…….….……….20

2.3      Merubah Mekanisme dan Prosedur Kerja……………………………………..………....20

BAB IV PENUTUP…………………………………………………………………………….23

4.1      Kesimpulan………………………………………….………………………………..….23

4.2      Rekomendasi……………………………………………….…………………….………23

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………..………24

 

 

 

PENDAHULUAN

1.1  Pengertian

Pada era globalisasi sekarang ini banyaknya perusahaan industri kreatif yang saling bersaing untuk mendapatkan kepercayaan ataupun daya tarik terhadap masyarakat. Disini lah dibutuhkannnya para desainer terutama dibidang desain komunikasi visual untuk menunjang ataupun meningkatkan kualitas dari perusahaan industri kreatif tersebut. Terutama dibidang perfilman dan periklanan.

Desain Komunikasi Visual dalam masa “New Normal” adalah DKV yang bisa merubah struktur diri agar mampu berubah untuk dapat beradaptasi kedalam masa New Normal yang dimulai pada tahun 2020 ini.

1.1.1 Perilaku Kerja

Perilaku kerja adalah suatu yang akan menjadi faktor dasar yang wajib dan harus diketahui oleh perusahaan agar dapat mengerti serta memahami perilaku kerja yang ditimbulkan saat karyawan bekerja karena hal ini akan mempengaruhi kesuksesan sebuah perusahaan atau organisasi dalam perjalanan bisnisnya. Menurut Theedens (1996) perilaku kerja adalah tanggapan atau reaksi individu yang timbul baik berupa perbuatan atau sikap maupun anggapan seseorang terhadap pekerjaannya, kondisi kerja yang di alami di lingkungan kerja serta perlakuan pimpinan terhadap karyawan itu sendiri. Perilaku kerja juga bisa dilihat lewat perbedaan gender, menurut Gray (2003) untuk menciptakan perilaku kerja yang baik harus memperhatikan komunikasi pria dan wanita, perasaan di tempat kerja menetapkan batasan dalam tiap perilaku kerja, serta mengingat berbagai perbedaan yang ada.

Dalam tiap perilaku kerja, serta mengingat berbagai perbedaan yang ada. Dengan mengerti perilaku kerja para karyawan, perusahaan akan mudah dalam mengatur serta memahami para karyawannya dengan tujuan menciptakan lingkungan kerja yang konsisten dan positif, sehingga semua kegiatan dalam perusahaan berjalan dengan baik dan dapat membuat profit kepada perusahaan. Menurut Sinamo (2002) perusahaan akan sukses jika para karyawannya dapat menjalankan 8 paradigma kerja utama yaitu bekerja tulus, bekerja tuntas, bekerja benar, bekerja keras, bekerja serius, bekerja kreatif, bekerja unggul, dan bekerja sempurna.

1.1.2 Adaptasi

            Menurut Denison (1995), teori adaptasi meletakkan penekanan pada kemampuan organisasi untuk menerima, menafsirkan dan menerjemahkan gangguan dari lingkungan luar ke norma internal yang mengarah pada kelangsungan hidup atau kesuksesan.Tiga aspek kunci dari kemampuan beradaptasiadalahpersepsi dan respon terhadap lingkungan eksternal, kemampuan untuk menanggapi pelanggan internal dan reaksi cepat baik terhadap pelanggan internal dan eksternal.

Menurut Schein (2010), lingkungan eksternal yang dihadapi perusahaan sebenarnya menjadi bagian dari dimensi budaya organisasi, apa pun skala usahanya, besar atau kecil. Proses pembentukan budaya organisasi yang kuat dalam jangka waktu lama akan membuat survive dalam beradaptasi terhadap lingkungan eksternal. Beberapa unsur yang esensial untuk beradaptasi menghadapi lingkungan eksternal perusahaan adalah mission and strategy, goals, means of developing consensus, reaching goals, measurement, and correction. Namun dalam penelitian ini budaya adaptif menggunakan konsep Denison.

Budaya adaptif dapat dinyatakan sebagai budaya yang mampu melakukan adaptasi. Menurut Schindehutte dan Moris (2001), adaptasi dapat didefinisikan sebagai tindakan-tindakan para pelaku usaha (entrepreneur) dan timnya dalam memproses masukan-masukan informasi dari lingkungannya dan membuat penyesuaian-penyesuaian yang cepat.

Lebih lanjut Marchand mengidentifikasi atribut-atribut dari budaya adaptif yang meliputi:

·         Semua karyawan, bagian, dan kelompok dalam organisasi unuk berkolaborasi secara efektif.

·         Kemampuan semua karyawan pada semua tingkatan untuk berjejaring dengan pihak-pihak di luar organisasi, memperoleh sumber-sumber baru dari informasi yang berguna maupun pespektif yang membantu dalam proses. Itu meliputi jaringan dengan konsumen dan pemegang kepentingan lain, tenaga ahli dari luar, bahkan dengan para pesaing.

·         Kemampuan semua karyawan di segala tingkatan untuk berinovasi dan bereksperimen tanpa ada rasa takut.

Sebuah organisasi tentu tidak dengan sendirinya akan memiliki budaya adaptif seturut perubahan lingkungannya. Kemampuan adaptasi perlu diupayakan. Miller (2013) mengidentifikasi 10 cara yang dapat dilakukan untuk membangun budaya adaptif suatu organisasi:

·         Menciptakan suatu perasaan krisis (a sense of crisis) dan adanya suatu kebutuhan bagi terjadinya perubahan dan arahan baru.

·         Berkomunikasi secara konsisten dan luas.

·         Menampilkan sebuah kecenderungan untuk menerima perubahan dan ide ide baru dari luar.

·         Memperkuat pentingnya inovasi.

·         Membangun dan memelihara kredibilitas pihak-pihak yang memiliki kepentingan.

·         Melembagakan focus yang seimbang pada keberhasilan konsumen, karyawan, dan pemilik.

·         Membangun kepemimpinan atau kemampuan untuk menghaasilkan perubahan sebagai focus penting pada semua tingkatan.

·         Mendesentralisasi pembuatan keputusan sejauh itu mungkin dilakukan.;

·         Mempromosikan dengan hati-hati dan mendemosi jika dirasa perlu.

·         Bekerja sebagai pemimpin yang melayani.

Kotter dan Heskett (1997) menyatakan bahwa jenis budaya adaptif menghargai dan mendorong kewiraswastaan, yang dapat membantu sebuah perusahaan beradaptasi dengan lingkungan yang berubah dengan memungkinkannya mengidentifikasi dan mengeksploitasi peluang-peluang baru. Kotter dan Hesket (1997) menekankan ”pelanggan” dan menyatakan secara tidak langsung bahwa jika sebuah budaya sangat menghargai pelanggan, dan menciptakan perubahan untuk melayani kebutuhan pelanggan, akan membantu membuat sebuah organisasi menjadi adaptif.

1.1.3 Design Komunikasi Visual

            Desain komunikasi visual yang lebih sering didengar dengan DKV pada saat sekarang ini sangat berperan penting didalam industri kreatif, terutama dibidang multimedia. Desain komunikasi visual sangat dibutuhkan utnuk membangkitkan kreatifitas didalam dunia seni perfilman. Didalam industri kreatif banyak perusahaan yang membutuhkan jasa dibidang komunikasi visual, cotohnya untuk perfilman,periklanan dll.

Makna dari desain komunikasi visual jika ditinjau dari asal katanya (etimologi) terdiri dari tiga asal kata yang diambil dari beberapa bahasa yang berbeda. Desain diambil dari kata designo yang berasal dari Italia yang berarti gambar. Sedang dalam bahasa Inggris desain diambil dari bahasa latin designare yang berarti merencanakan atau merancang. Istilah desain dalam seni rupa dipadukan dengan reka bentuk, reka rupa, rancangan atau sketsa. Kata komunikasi berarti menyampaikan suatu pesan dari komunikator (penyampai pesan) kepada komunikan (penerima pesan) dengan menggunakan suatu media dengan maksud tertentu. Komunikasi sendiri berasal dari bahasa Inggris communication yang diambil dari bahasa latin communis yang berarti sama‖(dalam bahasa Inggris : common). Lalu dalam proses pengertiannya dianggap sebagai proses menciptakan suatu kesamaan (commonness) atau suatu kesatuan pemikiran antara pengirim (komunikator) dan penerima (komunikan). Sementara kata visual bermakna segala sesuatu yang dapat dilihat dan direspon oleh indera penglihatan manusia yaitu mata. Berasal dari kata latin videre yang berarti melihat yang kemudian diadopsi ke dalam bahasa Inggris visual.

Dari arti istilah yang ditemukan dapat diartikan Desain Komunikasi Visual sebagai seni menyampaikan pesan (art of communication) dengan menggunakan bahasa rupa (visual language) yang disampaikan melalui media berupa desain yang bertujuan menginformasikan, mempengaruhi hingga merubah perilaku target yang melihat sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Bahasa rupa yang dipakai mencakup grafis, tanda, symbol, ilustrasi gambar/foto, tipografi/huruf, dan sebagainya yang berdasar pada kaidah bahasa visual khas berdasar ilmu tata rupa. Pesan yang diungkapkan secara kreatif dan komunikatif, mengandung solusi untuk permasalahan yang hendak disampaikan.

Desain Komunikasi Visual mengkaji segala sesuatu hal yang berkaitan dengan komunikasi dan pesan, teknologi percetakan, penggunaan teknologi multimedia dan teknik persuasi dalam masyarakat.

Dalam kalangan pendidik di Indonesia, Desain Komunikasi Visual sering disingkat menjadi DKV. Pada dasarnya merupakan istilah penggambaran untuk proses pengolahan media dalam berkomunikasi mengenai pengungkapan suatu pemikirian ataupun penyampaian informasi terlihat dan terbaca. Proses berkomunikasi melalui pendalaman ide-ide dengan penambahan gambar berupa foto, diagram, tipografi, ilustrasi, permainan warna, dan sebagainya yang dapat menghasilkan efek terhadap pihak-pihak yang melihat. Efek yang dihasilkan bergantung dari tujuan yang ingin disampaikan oleh penyampai pesan dan kemampuan dari penerima pesan untuk memahami pesan tersebut.

Dalam perkembangannya dalam kalangan dunia iklan dan dunia akademik di bidang komunikasi, istilah Desain Komunikasi Visual telah banyak dikenal meskipun istilah ini masih terhitung baru dalam kurun waktu dua dekade ini. Dalam dunia pendidikan kerap digunakan istilah Dekave ataupun DISKOMVIS yang merupakan akronim dari Desain Komunikasi Visual.

1.1.4 Perkembangan Design Komunikasi Visual Di Indonesia

            Perkembangan Desain Komunikasi Visual di Indonesia sudah berkembang sejak zaman kolonial. Mesin cetak pertama kali didatangkan dari Belanda ke pulau Jawa pada tahun 1659. Namun karena ketiadaan operator, mesin tersebut menganggur puluhan tahun. Tujuan didatangkan mesin cetak ini erat dikaitkan dengan niat misionaris untuk mencetak kitab suci dan buku-buku pendidikan Kristen di Indonesia. Selain kitab suci dan buku-buku pendidikan Kristen, mereka juga akan menerbitkan surat kabar berhaluan pendidikan Kristen.

            Pada Desember 1974 terjadi peristiwa yang dikenal dengan sebutan Desember Hitam. Pada waktu itu terjadi pergolakan seniman muda yang memprotes terhadap pemberian penghargaan pemerintah kepada lima pelukis, yang karyanya dikritisi bercorak seragam, yaitu dekoratif dan lebih ditujukkan pada kepentingan konsumtif. Persitiwa Desember Hitam ini kelak menjadi cikal bakal terbentuknya Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) pada tahun 1975. GSRB menolak batasan antara seni murni dan seni terap, semua kesenian termasuk desain dianggap sederajat. GSRB ini yang kelak akan memberikan pemahaman baru tentang seni di Indonesia.

            Gert Dumbar, seorang desainer grafis Belanda pada tahun 1977 mengenalkan istilah semiotika dan komunikasi visual di FSRD ITB. Menurutnya desain grafis tidak hanya menangani percetakan saja tetapi juga gambar bergerak, display, dan pameran. Dan sejak saat itu istilah desain komunikasi visual mulai dipakai menggantian desain grafis. Lalu pada akhir era 1970-an mulai banyak bermunculan perusahaan-perusahaan desain grafis yang dipimpin desainer grafis.

            Pada era 1980-an semakin banyak studio-studio desain grafis di Indonesia. Menjamurnya studio grafis di masa ini membuat studio grafis dimanapun dituntut untuk bisa mengerjakan pekerjaan apapun. Pop Art merupakan gaya yang paling umum digunakan pada saat itu. Majalah Tempo dan Zaman termasuk penerbit yang menggunakan gaya Pop Art pada sampulnya.

            Pada tanggal 16-24 Juni 1980 pameran desain grafis pertama “Erasmus Huis”di Pusat Kebudayaan Belanda yang dilakukan oleh tiga desainer grafis Indonesia. Pameran itu mengusung tujuan untuk mengenalkan profesi desainer grafis ke masyarakat umum. Dalam perkembangannya, pada tanggal 24 Semptember 1980 diresmikan organisasi desainer grafis pertama di Indonesia dengan diberi nama Ikatan Perancang Grafis Indonesia (IPGI). IPGI sendiri diresmikan bersamaan dengan sebuah pameran besar bertajuk Grafis 80‖ di Wisma Seni Mitra Budaya, Jakarta. Dengan ini dimulailah era pameran desain grafis di Indonesia.

Menjelang akhir 1990-an, muncul era baru dalam dunia Desain Komunikasi Visual di Indonesia. Mulai bermunculan penyampaian ide seniman pada karya yang menggunakan media yang tak lazim pada masanya. Lahirnya performance art, instalasi, dan media lainnya yang unik dan mengundang kontroversi.

Yogyakarta berperan penting dalam perkembangan Desain Komunikasi Visual pada masa ini. Bienalle IX di Yogykarta yang sebagian besar karyanya berupa instalasi. Perkembangan kecanggihan teknologi juga turut berperan penting dalam perkembagangan era ini. Forum dialog Yogyakarta-Bandung sempat mewarnai perkembangan Desain Komunikasi Visual di Indonesia. Seniman Bandung yang cenderung lebih mudah mendapatkan teknologi secara lengkap menampakkan kecenderungan karyanya perayaan modernism pada karyanya. Berbeda dengan Yogyakarta yang terbatas pada teknologi media yang digunakan dan cenderung menampakkan karya seni terait kehidupan sosial kemasyarakatan. Perbedaan visi pada kedua kota ini lalu mengkerucut dan kemudian membuat patokan tentang dunia Desain Komunikasi Visual yang berbeda di Indonesia.

 

1.2 Alur Proses Produksi DKV

            Proses desain komunikasi visual meliputi tahap berikut (Safanayong, 2006: 56):

1) Inspirasi

a. Inspirasi adalah alat yang mengembangkan desain.

b. Desainer perlu mencari inspirasi.

c. Desainer bisa mendapat inspirasi dan harus secara aktif mencari dari berbagai sumber.

2) Identifikasi meliputi proses seorang desainer dalam identifikasi idenya dan membicarakan dalam beberapa tahap yang terjadi, termasuk meninjau hambatan dan mendapatkan solusi, juga meliputi tanggung jawab desainer terhadap komunitas dan masyarakat keseluruhan apabila dihadapi dengan pilihan-pilihan yang dapat mempengaruhi keamanan, kesehatan dan kesejahteraan manusia.

3) Konseptualisasi, setelah mengenal masalah desain, memeriksa metode konseptualisasi ide untuk mendapatkan solusi, memeriksa konsep sifat desain dan bagaimana menggunakan intuisi dan metafor untuk membantu menciptakan presentasi yang berhubungan, hal ini memaksa untuk mengembangkan sebuah struktur pikiran dan memakai image-image elementer untuk menerangkan yang tidak diketahui dan yang tidak terlihat, menentukan kebutuhan untuk mempresentasikan konsep pada sasaran yang berbeda dalam suatu cara yang jelas dan teratur.

4) Definisi/Dummy menerangkan hirarki kebutuhan dalam desain dan mengidentifikasikan jenis-jenis keputusan yang terlibat dalam memenuhi kebutuhan tersebut.

5) Eksplorasi/Refinement menjelajahi metoda dasar untuk memperbaiki konsep sehingga lebih jelas, bahwa pilihan metoda dan media mempengaruhi perkembangan ide dan dapat memakai pilihan yang selaras dengan kepentingan, bagaimana sebuah konsep dapat berguna setelah teruji.

6) Komunikasi menyoroti bahwa tanggung jawab utama seorang desainer adalah mampu mengkomunikasikan kepada siapa, bagaimana dan mengapa.

a. Komunikasi adalah faktor kunci untuk keberhasilan proyek desain keseluruhan.

b. Khalayak yang berbeda memerlukan teknik komunikasi yang berbeda.

7) Produksi merupakan tahap akhir ini yang berperan penting dalam kerjasama antar desainer dan tim produksi serta melihat manfaat umpan balik.

 

 

 

BAB II

PENGORGANISASIAN DAN PENATAAN SUMBERDAYA MANUSIA

2.1 Divisi/Departement pada Industri Design Komunikasi Visual

A. Pekerjaan DKV

            Pekerja DKV menggunakan kata (huruf) dan gambar serta elemen– elemen grafis lain untuk berkomunikasi. Seni mereka merupakan seni verbal visual. Tanpa memperhatikan tugas desainer, desainer grafis mempunyai dua tujuan yang saling berhubungan yaitu :

·         Menyampaikan pesan pada audiens Seperti komunikator lain,desainer grafis bekerja membuat pesan yang jelas dan berkonsentrasi pada estetika

·         Menciptakan desain yang memaksakan dan menyenangkan yang akan menyempurnakan pesan Desain merupakan aturan dari bagian–bagian ke dalam sebuah koherensi yang menyeluruh. Desainer mengambil bagian bagian kata, gambar, dan elemen– elemen desain grafis lain dan mengatur ke dalam komunikasi yang menyatu dalam format.

Menurut Silver dalam bukunya “Graphic Desain and Layout” (Erry A Permana, 1994 : 4-5), peranan desain grafis mempunyai beberapa tugas, tugas desainer grafis dari :

·         Merencanakan melakaukan desain.

·         Menuliskan kekhususan Layout yang meliputi : · Menentukan ukuran halaman pada master page layout · Menentukan kualitas foto · Memilih dan menentukan typografi · Memilih jenis kertas · Memilih warna · Menbuat rough atau rancangan kasar iklan.

·         Membantu rekan kerja atau desainer grafis yang lainnya dalam memperbaiki hasil layout iklannya, pengambilan foto, dan pembuatan gambar atau ilustrasi.

Di dalam melaksanakan tugasnya seorang desainer mengikuti prosedur sebagai berikut :

·         Membuat ide kasar (drafted idea) berupa coretan-coretan kasar

·         memperbaiki ide pertama ke dalam bentuk yang lebih baik, yang dikenal dengan rough (baca : raf)

·         3Membuat komprehensif berdasarkan raf sebagi bahan ub tuk diperhatikan kepada pemesan.

B. Lapangan Kerja DKV

·         Perusahaan Periklanan / Advertising Agency

Aktivitas yang berhubungan dengan desain grafis dalam periklanan: merancang strategi komunikasi sebuah merek, me-layout iklan di berbagai media (contoh: majalah, surat kabar, billboard, website, TV), fotografi, tipografi, ilustrasi. Dalam bidang ini biasanya desainer grafis bekerjasama dengan creative director, art director, copywriter, fotografer dan illustrator.

·         Graphic Design Agency / Graphic House

Aktivitas yang berhubungan dengan desain grafis di Graphic Design Agency hampir sama dengan branding agency, bedanya ruang lingkup Graphic Design Agency biasanya lebih spesifik. Masing-masing agency memiliki fokus keahlian, misalnya di bidang desain kemasan (packaging), desain komunikasi perusahaan, desain publikasi, desain promosi, desain multimedia, desain web dan lainnya.

·         Branding Agency / Branding Consultant

Aktivitas yang berhubungan dengan desain grafis dalam branding: merancang strategi identitas dan komunikasi serta visual brand, merancang logo dan identitas lainnya, membuat buku pedoman identitas, menerapkan logo dan identitas visual lainnya ke dalam berbagai media. Contoh: dari kartu nama, kop surat, website, sampai ke desain produk dan kemasan (packaging), seragam karyawan, interior, arsitektur, mobil, pesawat terbang. Dalam bidang ini biasanya desainer grafis bekerjasama dengan: tim konsultan branding / branding expert yang terdiri dari ahli riset, bisnis, marketing, sosial budaya dan lainnya, juga dengan tim visualisasi / implementasi: copywriter, fotografer, illustrator, programmer, desainer interior, arsitek, kontraktor, desainer produk, dan berbagai pihak lain. Desainer grafis yang menekuni bidang ini biasa disebut dengan desainer branding.

·         Perusahaan Penerbitan / Publication Company

Aktivitas yang berhubungan dengan desain grafis dalam bidang penerbitan: merancang strategi identitas, komunikasi maupun visual berbagai media (contoh: buku, majalah, tabloid, surat kabar), me-layout cover dan isi, fotografi, tipografi, ilustrasi, infographic. Juga merancang materi promosi media tersebut: brosur, poster, iklan, banner, dan lain-lain. Dalam bidang ini biasanya desainer grafis bekerjasama dengan penulis, copywriter, fotografer, illustrator.

·         Percetakan & Digital Printing

Aktivitas yang berhubungan dengan desain grafis di Percetakan umumnya: mempersiapkan desain mentah dari klien menjadi siap cetak, antara lain: mengoperasikan software dan hardware dalam kaitan dengan warna, font, film, pelat, kertas, dan lain-lain. Dalam bidang ini biasanya desainer grafis bekerjasama dengan operator mesin, pihak perusahaan kertas. Saat ini, antara jenis instansi dan area pekerjaannya semakin tidak jelas batasannya, misalnya banyak advertising agency yang juga menerima pekerjaan logo atau percetakan yang menerima pekerjaan mendesain iklan.

·         Web / Software Development Company

Aktivitas yang berhubungan dengan desain grafis dalam bidang web / software development: merancang konsep, struktur, navigasi, dan penampilan situs web, blog, software, information kiosk, mesin ATM, dan lainnya. Contoh: desain halaman web, banner, button, animasi flash, dan lain-lain. Dalam bidang ini biasanya desainer grafis bekerjasama dengan copywriter dan programmer. Information Kiosk: mesin pencari informasi untuk pengunjung. Banyak terdapat di mall, gedung perkantoran, pameran, museum, dan lain-lain.

·         Game Development Company

Aktivitas yang berhubungan dengan desain grafis dalam bidang Game: merancang konsep, peraturan dan sistim game, karakter, lansekap, sampai materi promosinya: poster film, iklan, spanduk dan lainnya. Dalam bidang ini biasanya desainer grafis bekerjasama dengan produser, sutradara, penulis cerita, programmer, interface designer, animation designer, sound designer, dan lain-lain. Interface Designer: perancang penampilan, navigasi, dan atribut lainnya agar website / software / game tersebut mudah digunakan orang. Animation Designer: perancang konsep animasi film / game. Sound Designer: perancang konsep, efek, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan suara.

 

·         Perusahaan Film & Stasiun TV

Aktivitas yang berhubungan dengan desain grafis dalam bidang perfilman & TV: merancang konsep visual, story board, title & credits, special effect, trailer, juga properti, stage (background dan panggung), sampai materi promosinya: poster film, iklan, spanduk dan lainnya. Dalam bidang ini biasanya desainer grafis bekerjasama dengan produser, sutradara, penulis naskah, kontraktor dan berbagai pihak lain. Story board: rancangan seluruh adegan cerita sebuah film dari segi pengambilan gambar, suara dan atribut lainnya. Biasanya berupa frameframe yang berisi sketsa yang digambar dengan tangan. Title & Credits: animasi judul pembuka dan penutup dari sebuah film atau acara TV. Trailer: cuplikan-cuplikan adegan dari sebuah film atau program acara TV yang disusun sedemikian rupa untuk menarik perhatian calon penonton sebelum film yang bersangkutan beredar di pasaran.

·         Lembaga Pendidikan

Desainer grafis dapat meniti karier di lembaga-lembaga pendidikan, baik sebagai pegawai / pengajar tetap maupun paruh waktu. Terutama di jurusan yang biasanya berkaitan dengan desain grafis, contohnya: Desain Komunikasi Visual, Ilmu Komunikasi, Teknologi Informatika.

2.2  Jabatan Dan Deskripsi Tugas

a.      Graphic Designer

·         Memadukan unsur seni, visual, dan bahasa dalam sebuah desain untuk menyampaikan suatu pesan.

·         Membuat desain yang komunikatif dan mudah dipahami dari tampilan visualnya.

·         Menyampaikan pesan dengan cara yang unik dan kreatif, misalnya dengan mengangkat fenomena yang terjadi di masyarakat.

·         Melakukan pendayagunaan elemen desain, layout, dan proses teknis, sehingga tercipta karya desain grafis yang sesuai dengan kebutuhan yang diharapkan.

·         Memberikan solusi atas suatu permasalahan yang timbul dalam ruang lingkup tertentu, seperti lewat iklan layanan masyarakat.

·         Mengikuti perkembangan zaman agar inovasi desain yang diciptakan sesuai dengan kebutuhan zaman.

b.      Art Director

Art Director adalah orang yang bertanggung jawab dengan semua hal yang berkenaan dengan artistik, visual dan non verbal. Namun walaupun seorang Art Director, sesuai namanya, bertangung jawab dengan hal visual bukan berarti dia sama sekali tidak memperhatikan segi verbal. Art Director biasanya berasal dari lulusan Desain Komunikasi Visual atau Desain Grafis walaupun tidak menutup kemungknan juga dari disiplin ilmu lain yang kadang tidak berhubungan dengan dunia seni dan desain. bertugas untuk mengawasi, mensupervisi dan memberikan arahan mengenai artistik, visual dalam proses pembuatan sebuah iklan atau desain. Pada dasarnya seorang Art Director memang harus memikirkan tampilan sebuah iklan agar terlihat menarik. Namun tidak hanya sekedar faktor estetika maupun artistik saja namun yang terpenting adalah bagaimana sebuah iklan tersebut bisa mengkomunikasikan pesan terhadap khalayak sasarannya.

c.       Creative Director

Seorang Creative Directortif bertanggung jawab atas departemen kreatif di perusahaan periklanan dan pemasaran. Tugas mereka termasuk merencanakan iklan perusahaan, memantau kampanye merek, merevisi presentasi, dan membentuk standar merek. Juga disebut sebagai Direktur Desain. Creative Director memiliki tugas sebagai berikut:

·         Bekerja dengan tim merek untuk menghasilkan ide-ide baru untuk branding perusahaan, kampanye promosi, dan komunikasi pemasaran.

·         Mengevaluasi tren, menilai data baru dan tetap mengikuti perkembangan teknik pemasaran terbaru.

·         Bantu klien dalam menyelesaikan masalah dengan menjawab pertanyaan secara tepat waktu dan profesional.

·         Buat dan terapkan rencana pemasaran yang disesuaikan berdasarkan kebutuhan klien individu.

·         Pertemuan Brainstorming langsung dan sesi kreatif.

·         Bentuk standar merek dan buat prosedur untuk memastikan semua produk sesuai merek.

·         Mengawasi alur kerja harian departemen, menetapkan beban kerja proyek, dan memantau tenggat waktu dan anggaran.

·         Kembangkan salinan yang luar biasa dan dibuat dengan baik yang memenuhi persyaratan klien.

d.      Illustrator

Seorang ilustrator bekerja untuk membuat gambar statis berupa ilustrasi untuk digunakan dalam iklan, buku, majalah, kemasan produk, kartu ucapan, komik, ataupun surat kabar. Mereka harus mempunyai banyak ide dalam desain dan memahami persepi dari klien untuk dapat menyampaikan sebuah pesan atau ide melalui gambar. Tugas illustrator adalah:

·         Melakukan komunikasi dan berkonsultasi dengan klien untuk menyesuaikan keinginan klien tersebut.

·         Menerjemahkan pesan, ide, maupun cerita dalam bentuk visual yang menarik.

·         Mendesain sebuah karya ilustrasi yang akan ditampilkan di buku pustaka, iklan, website, majalah, koran, komik, kemasan produk, atau lainnya.

·         Menampilkan karya-karya ilustrasi di media sosial sebagai sebuah alat promosi.

·         Melakukan koordinasi dengan tim produksi untuk memastikan kualitas karya ilustrasi yang akan ditampilkan.

2.3  Penyesuaian Tugas Dalam Masa Covid-19

Diambil dari Konvensi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) (No. 155) dan Rekomendasi (No. 164): Hak, peran dan tanggung jawab, sejumlah ketentuan dalam Konvensi No. 155 dan rekomendasinya menawarkan langkahlangkah pencegahan dan perlindungan untuk mengurangi dampak negatif keselamatan dan kesehatan dari pandemi seperti COVID-19 di dunia kerja. Berikut adalah beberapa dari ketentuan-ketentuan tersebut:

·         Pengusaha harus diminta untuk memastikan, sejauh dapat dipraktikkan secara wajar, tempat kerja, mesin, peralatan dan proses di bawah kendali mereka dalam kondisi aman dan tanpa risiko terhadap kesehatan dan bahwa zat dan agen kimia, fisik serta biologis yang ada di bawah kendali mereka terbebas dari risiko kesehatan ketika langkahlangkah perlindungan yang tepat diambil. Pengusaha harus diminta untuk menyediakan, jika perlu, pakaian pelindung yang memadai dan alat pelindung diri untuk mencegah, sejauh dapat dipraktikkan secara wajar, risiko kecelakaan atau dampak buruk terhadap kesehatan

·         (K. 155, Pasal 16). Pakaian dan alat pelindung yang demikian harus disediakan, tanpa membebankan biaya apa pun kepada pekerja (R. 164, paragraf 10 (e)).

·         Pengusaha harus diminta untuk menyediakan, jika perlu, langkah-langkah untuk menangani keadaan darurat dan kecelakaan, termasuk pengaturan pertolongan pertama yang memadai (K. 155, Pasal 18).

·         Pengusaha juga harus memastikan bahwa pekerja dan perwakilan mereka dikonsultasikan, diinformasikan dan dilatih mengenai K3 terkait dengan pekerjaan mereka (K. 155, Pasal 19).

·         Pekerja dan perwakilan mereka memiliki hak untuk menerima informasi dan pelatihan yang memadai tentang K3. Mereka juga harus dimungkinkan untuk menyelidiki - dan untuk dikonsultasikan oleh pengusaha tentang - semua aspek K3 terkait dengan pekerjaan mereka. Pekerja juga memiliki hak untuk menyingkir dari situasi kerja yang menurut mereka cukup beralasan akan menimbulkan bahaya serius bagi kehidupan atau kesehatan mereka, tanpa harus menanggung konsekuensi (K. 155, Pasal13).

·         Dalam kasus seperti itu, pekerja harus melaporkan situasi yang demikian kepada atasan langsung mereka; hingga pengusaha telah mengambil tindakan perbaikan, yang diperlukan, pengusaha tidak boleh meminta pekerja untuk kembali ke situasi kerja di mana ada bahaya serius yang mengancam kesehatan atau kehidupan yang mungkin akan terjadi (K. 155, Pasal 19 (f)).

·         Pekerja dan perwakilan mereka harus bekerja sama dengan pengusaha di bidang K3 (K 155, Pasal 19).

·         Kerja sama ini mencakup: Menjaga dengan wajar keselamatan diri mereka sendiri dan orang lain yang mungkin terkena dampak dari tindakan atau kelalaian mereka di tempat kerja; mematuhi instruksi yang diberikan untuk keselamatan dan kesehatan mereka sendiri dan orang lain; menggunakan perangkat keselamatan dan alat pelindung diri dengan benar dan tidak membuatnya tidak beroperasi; melaporkan segera kepada atasan langsung setiap situasi yang mereka yakini dapat menimbulkan bahaya dan yang tidak dapat mereka perbaiki sendiri; melaporkan setiap kecelakaan atau dampak pada kesehatan yang timbul dalam kegiatan terkait pekerjaan (R. 164, Paragraf.16)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

IMPLEMENTASI NEW NEW NORMAL LIFE DI PERUSAHAAN DESAIN KOMUNIKASI VISUAL

3.1 Pengaturan Shift Karyawan

Pengaturan Jam Kerja

1. pengaturan jam kerja sebagai berikut:

·         Pengaturan jam kerja antar shift wajib dilakukan dengan jeda minimal 3 (tiga) jam.

·         Shift 1: Masuk antara Pukul 07.00 - 07.30 dan Pulang antara Pukul 15.00 - 15. 30.

·         Shift 2: Masuk antara Pukul 10.00 - 10.30 dan Pulang antara Pukul 18.00 - 18. 30.

2. pengaturan jam kerja dikecualikan untuk jenis dan sifat pekerjaan yang dijalankan secara terus menerus.

3. jumlah pegawai/karyawan yang bekerja dalam shift diatur secara proporsional mendekati perbandingan 50:50 untuk setiap shift.

4. pengaturan jam kerja ini diikuti oleh:

·         optimalisasi penerapan kerja dari rumah (Work from Home) dan keselamatan bagi kelompok rentan;

·         penyusunan dan penerapan pengaturan teknis operasional jam kerja oleh masing-masing instansi/kantor/pemberi kerja dengan tetap menjalankan protokol kesehatan;

·         penyusunan dan penerapan pengaturan teknis operasional sarana dan prasarana transportasi, serta pemanfaatan fasilitas publik oleh otoritas/pengelola/penyelenggara dengan tetap menjalankan protokol kesehatan

 

3.2 Penetapan Jenis Pekerjaan Yang Dapat Dilakukan Dirumah

            Karena dunia kerja Desain Komunikasi Visual adalah pekerjaan yang tidak esensial untuk bertemu face to face, hampir semua pekerjaan dapat dilakukan dari rumah. Menurut Surat Edaran Menteri Keuangan SE-5/MK.01/2020 tentang Panduan Tindak Lanjut Terkait Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di Lingkungan Kementerian Keuangan, Work From Home (WFH) merupakan kegiatan melaksanakan tugas kedinasan, menyelesaikan output, koordinasi, meeting, dan tugas lainnya dari tempat tinggal pegawai. Sedangkan istilah umumnya yaitu kerja jarak jauh (bahasa Inggris: telecommuting, remote working; istilah padanan lain: kerja dari rumah) merupakan model atau perjanjian kerja di mana karyawan memperoleh fleksibilitas bekerja dalam hal tempat dan waktu kerja dengan bantuan teknologi telekomunikasi, dengan kata lain, kegiatan bepergian ke kantor atau tempat ke digantikan dengan hubungan telekomunikasi.

3.3 Merubah Mekanisme dan Prosedur kerja

SAAT KEMBALI BEKERJA PASCA PEMBATASAN SOSIAL BERSKALA BESAR (PSBB):

·         Pihak manajemen/Tim Penanganan COVID-19 di tempat kerja selalu memperhatikan informasi terkini serta himbauan dan instruksi Pemerintah Pusat dan Daerah terkait COVID-19 di wilayahnya, serta memperbaharui kebijakan dan prosedur terkait COVID-19 di tempat kerja sesuai dengan perkembangan terbaru. (Secara berkala dapat diakses http://infeksiemerging.kemkes.go.id dan kebijakan Pemerintah Daerah setempat)

·         Mewajibkan semua pekerja menggunakan masker selama di tempat kerja, selama perjalanan dari dan ke tempat kerja serta setiap keluar rumah.

·         Larangan masuk kerja bagi pekerja, tamu/pengunjung yang memiliki gejala demam/nyeri tenggorokan/batuk/pilek/sesak nafas. Berikan kelonggaran aturan perusahaan tentang kewajiban menunjukkan surat keterangan sakit.

·         Jika pekerja harus menjalankan karantina/isolasi mandiri agar hak-haknya tetap diberikan.

·         Menyediakan area/ruangan tersendiri untuk observasi pekerja yang ditemukan gejala saat dilakukan skrining.

·         Pada kondisi tertentu jika diperlukan, tempat kerja yang memiliki sumber daya dapat memfasilitasi tempat karantina/isolasi mandiri.

·         Penerapan higiene dan sanitasi lingkungan kerja 1) Selalu memastikan seluruh area kerja bersih dan higienis dengan melakukan pembersihan secara berkala menggunakan pembersih dan desinfektan yang sesuai (setiap 4 jam sekali). Terutama handle pintu dan tangga, tombol lift, peralatan kantor yang digunakan bersama, area dan fasilitas umum lainya. 2) Menjaga kualitas udara tempat kerja dengan mengoptimalkan sirkulasi udara dan sinar matahari masuk ruangan kerja, pembersihan filter AC.

·         Melakukan rekayasa engineering pencegahan penularan seperti pemasangan pembatas atau tabir kaca bagi pekerja yang melayani pelanggan, dan lain lain.

·         Satu hari sebelum masuk bekerja dilakukan Self Assessment Risiko COVID-19 pada seluruh pekerja untuk memastikan pekerja yang akan masuk kerja dalam kondisi tidak terjangkit COVID-19. Tamu diminta mengisi Self Assessment.

·         Melakukan pengukuran suhu tubuh (skrining) di setiap titik masuk tempat kerja :

§  Petugas yang melakukan pengukuran suhu tubuh harus mendapatkan pelatihan dan memakai alat pelindung diri (masker dan faceshield) karena berhadapan dengan orang banyak yang mungkin berisiko membawa virus.

§  Pengukuran suhu tubuh jangan dilakukan di pintu masuk dengan tirai AC karena dapat mengakibatkan pembacaan hasil yang salah.

§  Interpretasi dan tindak lanjut hasil pengukuran suhu tubuh di pintu masuk terdapat pada Form 2 dan Form 3.

·         Terapkan physical distancing / jaga jarak ;

§  Pengaturan jumlah pekerja yang masuk agar memudahkan penerapan physical distancing.

§  Pada pintu masuk, agar pekerja tidak berkerumun dengan mengatur jarak antrian. Beri penanda di lantai atau poster/banner untuk mengingatkan.

§  Jika tempat kerja merupakan gedung bertingkat maka untuk mobilisasi vertical lakukan pengaturan sebagai berikut:

·         Penggunaan lift: batasi jumlah orang yang masuk dalam lift, buat penanda pada lantai lift dimana penumpang lift harus berdiri dan posisi saling membelakangi.

·         Penggunaan tangga: jika hanya terdapat 1 jalur tangga, bagi lajur untuk naik dan untuk turun, usahakan agar tidak ada pekerja yang berpapasan ketika naik dan turun tangga. Jika terdapat 2 jalur tangga, pisahkan jalur tangga untuk naik dan jalur tangga untuk turun.

·         Lakukan pengaturan tempat duduk agar berjarak 1 meter pada meja/area kerja, saat melakukan meeting, di kantin, saat istirahat, dan lain lain.

·         Jika memungkinkan, menyediakan transportasi khusus pekerja untuk perjalanan pulang pergi dari mess/perumahan ke tempat kerja sehingga pekerja tidak menggunakan transportasi publik.

·         Petugas kesehatan/petugas K3/bagian kepegawaian melakukan pemantauan kesehatan pekerja secara proaktif:

§  Sebelum masuk kerja, terapkan Self Assessment Risiko COVID-19 pada seluruh pekerja untuk memastikan pekerja yang akan masuk kerja dalam kondisi tidak terjangkit COVID-19.

§  Selama bekerja, masing-masing satuan kerja/bagian/divisi melakukan pemantauan pada semua pekerja jika ada yang mengalami demam/batuk/pilek.

§  Mendorong pekerja untuk mampu deteksi diri sendiri (self monitoring) dan melaporkan apabila mengalami demam/sakit tengorokan/batuk/pilek selama bekerja. 4) Bagi pekerja yang baru kembali dari perjalanan dinas ke negara/daerah terjangkit COVID-19 pekerja diwajibkan melakukan karantina mandiri di rumah dan pemantauan mandiri selama 14 hari terhadap gejala yang timbul dan mengukur suhu 2 kali sehari.

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

            Industri DKV tidak terlalu terkena dampak dari Covid-19 karena memang industry ini tidak bergantung dengan pertemuan antar pekerja, memang kebanyakan pekerja DKV biasanya adalah freelance yang sudah bekerja dari rumah. Mereka bisa melakukan e-meeting dan bertemu klien dengan online dengan mudah. Psychological Well Being juga menjadi faktor dan penyebab penting mengapa kerja dari rumah ini dilakukan

4.2 Rekomendasi

            COVID-19 terus sangat mempengaruhi kesehatan masyarakat dan menyebabkan gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap ekonomi dan pasar tenaga kerja. Pergeseran tempat kerja mayoritas karyawan untuk bekerja dari rumah ke ditetapkan kepada seluruh pekerjaan yang tidak esantial atau yang tidak telalu penting menjadi dampak Covid-19 yang paling jelas terjadi dan dapat dirasakan semua orang. Dengan begitu kita harus bisa cepat beradaptasi kepada new normal dengan cepat

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

REFERENSI

                              Baidun, Akhmad & Shaleh, Abdul & Miftahuddin, Miftahuddin & Luzvinda, Liany & Muhtar, Desi. (2020). EFFECT OF PSYCHOLOGICAL CAPITAL AND GRATITUDE ON SUBJECTIVE WELL-BEING YOUNG MOTHER OF HIJRAH COMMUNITIES IN JAKARTA. 10.4108/eai.18-9-2019.2293469. 

                Herman, Achmad & Pahlevi, Anita & Said, Yulianti. (2016). PROSES DESAIN KOMUNIKASI VISUAL IKLAN POLITIK DALAM PILKADA MOROWALI TAHUN 2012. KANAL: Jurnal Ilmu Komunikasi. 3. 127. 10.21070/kanal.v3i2.304.

            PUTRA PERSADA, MUHAMAD ETZHA (2015) LANDASAN KONSEPTUAL PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PUSAT PENDIDIKAN DESAIN KOMUNIKASI VISUAL MODERN DI YOGYAKARTA. S1 thesis, UAJY.

            Widodo, Hyginus & Triwanggono, Aloysius. (2018). KARAKTERISTIK BUDAYA ORGANISASI, KEMAMPUAN ADAPTASI, DAN KINERJA USAHA MIKRO KECIL MENENGAH. EXERO : Journal of Research in Business and Economics. 1. 90-110. 10.24071/exero.2018.010105.

Maulana, Thernando. "Analisa Perilaku Kerja Karyawan Di De Boliva Surabaya Town Square." vol. 1, no. 2, 2013, pp. 563-577.

Setyorini, Eka. (2008). PERANAN DESAIN GRAFIS SEBAGAI BAGIAN DARI DIVISI KREATIF DALAM PERIKLANAN DI CV. MEDIA ARTA (HARNO AR.). JURUSAN PERIKLANAN PROGRAM STUDI, FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK, UNIVERSITAS SEBELAS MARET, SURAKARTA

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.01.07/MENKES/328/2020

GUGUS TUGAS PERCEPATAN PENANGANAN COVID-19. SURAT EDARAN NOMOR 8 TAHUN 2020 TENTANG PENGATURAN JAM KERJA PADA MASA ADAPTASI KEBIASAAN BARU MENUJU MASYARAKAT PRODUKTIF DAN AMA CORONA VIRUS DISIESE 2019 (COVID-19) DI WILAYAH JABODETABEK

International Labour Organization. (2020). Dalam menghadapi pandemi: Memastikan Keselamatan dan Kesehatan di Tempat Kerja. Labour Administration, Labour Inspection and Occupational Safety and Health Branch (LABADMIN/OSH), Switzerland